Home / Pendidikan

Kamis, 23 Oktober 2025 - 16:20 WIB

Mengenang Kejayaan Sultan Banjar ke-5, Sultan ‘Inayatullah: Sang Pemimpin Bijaksana Penjaga Kedaulatan Banjar

MARTAPURA – peloporNews Kalimantan– Di balik gemerlap sejarah Kalimantan Selatan, berdiri satu nama yang terpahat abadi dalam ingatan rakyat Banjar — Sultan ‘Inayatullah, sang penguasa bijaksana yang memimpin dengan keteguhan hati dan kebesaran jiwa. Di masa ketika gelombang kolonial mulai menjangkau perairan Nusantara, beliau tampil sebagai benteng terakhir yang menjaga kehormatan, kedaulatan, dan marwah Kesultanan Banjar.

Sultan ‘Inayatullah adalah Sultan Banjar ke-5, memerintah dari tahun 1620 hingga 1637 Masehi. Pemerintahannya berpusat di Kayu Tangi, Martapura, yang pada masa itu menjadi simbol kekuasaan dan kejayaan Banjar. Di bawah kepemimpinannya, kerajaan tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga lambang kemandirian dan kehormatan rakyat Banjar.

Dalam catatan sejarah, Sultan ‘Inayatullah dikenal bukan hanya karena wibawa dan ketegasannya, tetapi juga karena kebijaksanaan dalam memimpin dan membina rakyatnya. Ia menyadari bahwa kekuasaan sejati bukan terletak pada singgasana, melainkan pada tanggung jawab menjaga kesejahteraan dan kehormatan rakyatnya.

Bersama pamannya, Raden Bagus (Sultan Muhammad Aminullah) yang bergelar Kyai Tanu, Sultan ‘Inayatullah mendirikan Balai Raja di wilayah Sungai Kitano (Kyai Tanu). Keduanya hidup berdampingan dalam satu lingkungan istana yang harmonis.
Raden Bagus diangkat menjadi Mangkubumi, dan dari sinilah tercipta tata pemerintahan yang kokoh, penuh kehormatan, dan sarat nilai-nilai kekerabatan kerajaan.

Baca Juga :  Bakti Kesehatan dan Sosial Meriahkan Kota Banjarmasin: Kapolda Kalsel Irjen Pol. Andi Rian Djajadi Memimpin Penyaluran Bantuan dan Pameran UMKM di STIE Indonesia Banjarmasin

Dalam masa pemerintahannya, Banjar hidup dalam suasana aman, tenteram, dan makmur. Benteng-benteng peninggalan sang ayah menjadi pelindung bagi istana Kayu Tangi dari ancaman kolonial Belanda.
Sementara itu, bekas istana di Kuin, Banjarmasin, berkembang menjadi pusat perdagangan dan diplomasi internasional. Strategi politik yang dijalankan Sultan ‘Inayatullah menjadi bukti kecerdasan diplomatik seorang raja yang mampu menjaga kedaulatan negeri tanpa menundukkan kepala di hadapan bangsa asing.

Kehidupan pribadi Sultan ‘Inayatullah juga merefleksikan semangat persatuan dan keberagaman budaya di Tanah Banjar. Beliau memiliki tiga istri dari berbagai kalangan bangsawan dan daerah:

Ratu Timbap binti Raden Aria Papati dari Mataram,

Nyai Mas Tarah binti Haji ‘Umar dari Paser, dan

Dayang Putih dari kalangan Suku Dayak.

Dari ketiga permaisuri tersebut, lahirlah lima orang anak yang mewarisi darah kebangsawanan Banjar dan semangat kepemimpinan ayahandanya:

Sultan Sa’idullah (Ratu Anom)

Ratu Gelang (Pangeran Purba)

Ratu Bagus (Pangeran Agung)

Ratu Lamak (Pangeran Adipati Khalid)

Ratu Antasari (Pangeran Antasari)

Mereka menjadi generasi penerus yang menanamkan nilai keberanian, cinta tanah air, serta kesetiaan terhadap warisan Banjar yang agung.

Baca Juga :  Guru Ahmad Fauzi Bin KH. Hamzah Berpulang, Pondok Pesantren Salafiyah Berduka"

Setelah hampir dua dekade memimpin dengan penuh kebijaksanaan, Sultan ‘Inayatullah wafat pada hari Kamis, 8 Rajab 1047 H (26 November 1637 Masehi).
Kepergian beliau disambut dengan duka mendalam oleh segenap rakyat Banjar. Jenazah dimakamkan di Sungai Kitano, Martapura, dalam upacara penuh penghormatan kerajaan.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan kebijaksanaannya, beliau dianugerahi gelar Ratu Agung serta Pangeran Dipati Tuha, tanda pengakuan atas peran besarnya dalam menjaga kedaulatan dan marwah Kesultanan Banjar.

Berabad-abad telah berlalu, namun nama Sultan ‘Inayatullah tetap harum dan abadi dalam sanubari masyarakat Banjar.
Kisah hidup dan kepemimpinannya menjadi refleksi mendalam bahwa kekuasaan sejati tidak diukur dari kemegahan istana, melainkan dari ketulusan hati dalam mengabdi kepada rakyat dan menjaga kehormatan negeri.

Dalam setiap napas sejarah Banjar, Sultan ‘Inayatullah hadir sebagai simbol kepemimpinan yang berakar pada keimanan, kearifan, dan kasih sayang terhadap tanah leluhur.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan kepada beliau, serta menempatkannya di sisi para pemimpin yang saleh dan mulia.”(Team)

 

Share :

Baca Juga

Pendidikan

Milad ke-10 Ponpes Azzikra DDI Kersik Putih Meriah, Hadiah Umrah Diraih Santriwati Asal Kotabaru

Pendidikan

Ketua BAZNAS Tanah Bumbu Ucapkan Selamat Milad ke-10 Ponpes Azzikra DDI Kersik Putih

Pendidikan

Pemkab Kotabaru Peringati Hari Santri Nasional 2026, Teguhkan Peran Santri Menuju Indonesia Emas

Pendidikan

Dispersip Kotabaru Dorong Budaya Literasi melalui Lomba Bercerita Tingkat SMP

Pendidikan

Layanan Bercerita Anak Dispersip Kotabaru Hadir Di Pulau Laut Tengah

Pendidikan

Bangun Budaya Baca Sejak Dini, Dispersip Kotabaru Gelar Story Telling Bersama PT Arutmin

Pendidikan

Serunya Anak TK Mengenal Literasi Lewat Cerita Kura-Kura dan Monyet

Pendidikan

Jejak Ulama Besar Keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syekh Ali Junaidi Berau