Home / Pendidikan

Sabtu, 25 Oktober 2025 - 13:10 WIB

Jejak Heroik Demang Lehman, Panglima Perang Banjar yang Tak Takut Mati Demi Kemerdekaan: Melawan Kolonialisme Belanda

MARTAPURA –PeloporNews Kalimantan -Dalam sejarah panjang perjuangan rakyat Banjar melawan penjajahan Belanda, nama Demang Lehman tercatat dengan tinta keberanian dan pengorbanan. Ia bukan hanya seorang panglima perang Kerajaan Banjar, tetapi simbol perlawanan rakyat Banua yang menolak tunduk pada kekuasaan kolonial.

Gambar yang menampilkan sosok Demang Lehman kini menjadi pengingat abadi akan semangat juang dan keberanian seorang anak bangsa yang lahir dari tanah Kalimantan Selatan. Lahir dengan nama Idies pada tahun 1832 di Barabai, Demang Lehman tumbuh dalam lingkungan masyarakat yang menjunjung tinggi kehormatan dan keberanian.

Sejak muda, Idies telah menunjukkan keteguhan hati dan kecerdasannya dalam strategi perang. Ia kemudian dikenal luas sebagai panglima perang dengan sebutan Demang Lehman, menjadi salah satu tokoh penting yang mendampingi Pangeran Hidayatullah II dalam Perang Banjar (1859–1905) — perang besar yang mengguncang kekuasaan Belanda di Kalimantan.

Ketika Belanda mulai memperluas kekuasaan dan menindas rakyat Banjar dengan kebijakan kolonial yang menjerat, muncul gelombang perlawanan dari berbagai daerah. Di sinilah peran Demang Lehman bersinar. Ia dipercaya oleh Pangeran Hidayatullah II sebagai panglima perang yang memimpin pasukan Banjar di garis depan.

Baca Juga :  PPDB 2024 SMK Negeri 1 Tanah Bumbu: Antusiasme Tinggi, Siswa Siap Hadapi Tantangan Industri

Dengan taktik gerilya yang cerdas dan keberanian luar biasa, pasukannya berhasil merebut dan menguasai Benteng Belanda di Tabaniau, sebuah kemenangan besar yang membuat Belanda kalang kabut. Kabar kemenangan itu menyebar cepat, membakar semangat rakyat Banjar dan Dayak untuk bersatu melawan penjajahan.

Namun, perjuangan itu tidak tanpa pengorbanan. Setelah bertahun-tahun memimpin pertempuran, Demang Lehman akhirnya ditangkap oleh Belanda pada tahun 1861. Meski berada di tangan musuh, ia tetap menolak tunduk dan tidak pernah mengkhianati perjuangan bangsanya.

Pada 27 Februari 1864, di Martapura, Demang Lehman dihukum gantung dan dieksekusi mati oleh Belanda. Namun kekejaman tak berhenti di situ , kepalanya dipenggal dan dibawa ke museum di Leiden, Belanda, sebagai simbol penghinaan terhadap perjuangan rakyat Banjar.

Tindakan itu justru menambah kemarahan dan tekad rakyat Banjar untuk terus melawan. Dari peristiwa tragis tersebut, Demang Lehman kemudian dikenang sebagai “Pahlawan Bumi Tanpa Kepala”, simbol keberanian yang tak tergantikan dalam sejarah perjuangan Kalimantan.

Baca Juga :  Pangeran Hidayatullah, Pejuang Banjar yang Dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Pemerintah Republik Indonesia pada 1999

Meski lebih dari satu abad telah berlalu, kisah heroik Demang Lehman tetap hidup di hati masyarakat Banjar. Ia bukan hanya tokoh sejarah, melainkan inspirasi tentang arti perjuangan, keberanian, dan cinta tanah air.

Generasi muda hari ini diingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lahir begitu saja. Ia diperjuangkan dengan darah dan nyawa oleh para pahlawan seperti Demang Lehman yang berani berdiri melawan ketidakadilan.

Kini, berbagai pihak di Kalimantan Selatan terus mendorong agar peninggalan sejarah perjuangan Demang Lehman dilestarikan dan dikenang sebagai warisan kebanggaan bangsa.

Demang Lehman telah gugur, namun semangatnya tak pernah padam. Ia telah menunjukkan bahwa cinta pada tanah air lebih kuat daripada rasa takut pada kematian. Dari tanah Banua yang subur, dari darah seorang panglima tanpa kepala, lahirlah semangat perjuangan yang abadi ,semangat Banjar yang menolak dijajah.”(Team)

Share :

Baca Juga

Pendidikan

Layanan Bercerita Anak Dispersip Kotabaru Hadir Di Pulau Laut Tengah

Pendidikan

Bangun Budaya Baca Sejak Dini, Dispersip Kotabaru Gelar Story Telling Bersama PT Arutmin

Pendidikan

Serunya Anak TK Mengenal Literasi Lewat Cerita Kura-Kura dan Monyet

Pendidikan

Jejak Ulama Besar Keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syekh Ali Junaidi Berau

Pendidikan

Wali Katum, Sang Wali Tersembunyi dari Tabu Darat: Kisah Zuhud Gt.Muhammad Ramli yang Terus Dikenang

Pendidikan

Haul ke-208 Sultan Sulaiman Rahmatullah: Mengenang Raja Banjar ke-13 yang Dikenal Alim, Bijaksana dan Menjunjung Keadilan

Pendidikan

MTQ ke-23 Simpang Empat Resmi Ditutup, Bupati Tanah Bumbu Tekankan Al-Qur’an sebagai Landasan Pembentukan Generasi Berakhlak

Pendidikan

Pangeran Hidayatullah, Pejuang Banjar yang Dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Pemerintah Republik Indonesia pada 1999