Home / Pendidikan

Sabtu, 22 November 2025 - 13:13 WIB

Pangeran Syarif Nata Kusuma: Ulama Hadramaut yang Menjadi Menantu Sultan Adam dan Tokoh Penting Kesultanan Banjar

.Martapura — PeloporNewsKalimantan- -Sejarah Kesultanan Banjar tidak hanya dihiasi oleh para raja dan bangsawan, tetapi juga oleh kehadiran para ulama yang berperan besar dalam perkembangan syiar Islam di Kalimantan Selatan. Salah satu tokoh yang meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah tersebut ialah Alhabib Abdullah bin Abdurrahman Assegaf, seorang ulama asal Hadramaut, Yaman, yang kemudian diberi gelar Pangeran Syarif Nata Kusuma, menantu dari Sultan Adam Al Wasiqubillah.

Datang dari Hadramaut untuk Syiar Islam
Alhabib Abdullah bin Abdurrahman Assegaf dikenal sebagai ulama dari kalangan Bani Alawi, keturunan habaib yang menjaga tradisi keilmuan salaf dan memiliki reputasi dalam dakwah, akhlak, serta pengabdian kepada masyarakat. Dalam perjalanannya berdakwah, beliau tiba di wilayah Kesultanan Banjar di Martapura pada masa pemerintahan Sultan Adam Al Wasiqubillah bin Sultan Sulaiman.

Sesampainya di Martapura, Habib Abdullah aktif berdakwah dan turut mengembangkan pendidikan Islam bersama para keturunan ulama besar, terutama keluarga Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Keilmuan dan kedalaman spiritualitasnya membuatnya dihormati oleh masyarakat Banjar.

Seyembara Sultan Adam: Ketika Putri Kerajaan Mengalami Sakit
Sejarah lisan mencatat bahwa Putri Sultan Adam, Ratu Khadijah, pernah mengalami sakit yang cukup lama. Berbagai ikhtiar dilakukan keluarga kerajaan—baik pengobatan tradisional maupun upaya lainnya—namun belum membuahkan hasil. Akhirnya, Sultan Adam mengadakan seyembara, yakni pengumuman terbuka bahwa siapa pun yang mampu membantu memulihkan kesehatan putrinya akan dijadikan menantu kerajaan.

Baca Juga :  Tradisi Spiritual Kesultanan Banjar: Setiap Sulthon Dibimbing Guru Murabbi Mursyid

Kabar tersebut sampai kepada Alhabib Abdullah Assegaf. Beliau kemudian menghadap Sultan Adam di Istana Kesultanan Banjar di Pesayangan, Martapura.

Doa, Ikhtiar, dan Pulihnya Ratu Khadijah
Setelah bertemu Sultan Adam, Alhabib Abdullah berdoa (bermunajat) memohon pertolongan Allah SWT untuk kesembuhan Ratu Khadijah. Ikhtiar spiritual tersebut disebut-sebut membuahkan hasil. Seiring waktu, kondisi Ratu Khadijah berangsur membaik hingga kembali sehat.

Sebagai bentuk syukur dan penghormatan, Sultan Adam mengangkat Alhabib Abdullah bin Abdurrahman Assegaf sebagai menantu, sekaligus memberinya gelar Pangeran Syarif Nata Kusuma, yang berarti menantu Sultan. Selain itu, beliau juga dianugerahi gelar Pangeran Al-Aminullah.

Ratu Khadijah sendiri kemudian dikenal oleh masyarakat sebagai Ratu Keramat, gelar yang disematkan karena reputasinya sebagai sosok yang salehah dan membawa pengaruh baik bagi masyarakat. Gelar tersebut juga dikaitkan dengan peran sang suami yang dikenal sebagai ulama yang doanya mudah diijabah.

Keturunan Pangeran Syarif Nata Kusuma
Dari pernikahan Habib Abdullah dan Ratu Khadijah, lahirlah beberapa keturunan yang kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah Banjar dan perkembangan Islam di Kalimantan Selatan. Mereka adalah:

Baca Juga :  Puluhan Siswa SD dan MI Banjarmasin Berprestasi di Lomba Peringatan Milad SMP Muhammadiyah 6 ke-51

Alhabib Segaf Assegaf

Alhabib Abdul Rahman Assegaf

Alhabib Ibrahim Assegaf

Alhabib Husein Assegaf

Alhabib Ali Assegaf

Pada masa penjajahan Belanda, tokoh ulama dan keturunan Arab kerap menjadi sasaran pengawasan ketat. Karena itu, nama asli Alhabib Abdullah bin Abdurrahman Assegaf lebih sering disamarkan menjadi Pangeran Syarif Nata Kusuma untuk melindungi dirinya dan menjaga keberlangsungan dakwah Islam.

Ketika Perang Banjar pecah pada April 1859, Pangeran Syarif Nata Kusuma meninggalkan Istana Kesultanan di Pesayangan. Beliau menuju daerah Sungai Tabukan, yang kini dikenal sebagai Desa Tangkas, untuk tetap meneruskan perjuangan spiritual bersama para pangeran dan pejabat Kesultanan lainnya.

Beliau menetap di sana hingga akhir hayatnya, sementara istrinya, Ratu Khadijah, telah wafat lebih dahulu dan dimakamkan di Alkah Kesultanan Banjar.

Kisah Alhabib Abdullah bin Abdurrahman Assegaf ,Pangeran Syarif Nata Kusuma—bukan hanya cerita mengenai ulama yang menjadi menantu raja. Ini adalah kisah tentang persilangan antara dakwah, budaya, bangsawan, keberanian, serta cinta pada syiar Islam yang tetap hidup di tengah tantangan zaman.

Sumber sejarah ini termaktub dalam catatan Pedatuan Pegustian Banjar Kesultanan Banjar, yang menegaskan peran besar keluarga habaib dan kesultanan dalam perjalanan panjang peradaban Banjar.”(Team)

Share :

Baca Juga

Pendidikan

Milad ke-10 Ponpes Azzikra DDI Kersik Putih Meriah, Hadiah Umrah Diraih Santriwati Asal Kotabaru

Pendidikan

Ketua BAZNAS Tanah Bumbu Ucapkan Selamat Milad ke-10 Ponpes Azzikra DDI Kersik Putih

Pendidikan

Pemkab Kotabaru Peringati Hari Santri Nasional 2026, Teguhkan Peran Santri Menuju Indonesia Emas

Pendidikan

Dispersip Kotabaru Dorong Budaya Literasi melalui Lomba Bercerita Tingkat SMP

Pendidikan

Layanan Bercerita Anak Dispersip Kotabaru Hadir Di Pulau Laut Tengah

Pendidikan

Bangun Budaya Baca Sejak Dini, Dispersip Kotabaru Gelar Story Telling Bersama PT Arutmin

Pendidikan

Serunya Anak TK Mengenal Literasi Lewat Cerita Kura-Kura dan Monyet

Pendidikan

Jejak Ulama Besar Keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syekh Ali Junaidi Berau