Home / Pendidikan

Kamis, 20 Agustus 2026 - 19:40 WIB

Haul ke-208 Sultan Sulaiman Rahmatullah: Mengenang Raja Banjar ke-13 yang Dikenal Alim, Bijaksana dan Menjunjung Keadilan

KARANG INTAN Martapura— Pelopornewskalimantan.com-Ratusan jamaah, zuriat Pagustian, alim ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga dari berbagai daerah berkumpul dalam suasana khidmat pada peringatan Haul ke-208 Raja Banjar ke-13, Sultan Sulaiman Rahmatullah bin Sultan Tahmidillah, di Kubah Sultan Sulaiman, Desa Lihung, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Rabu malam, 19 Agustus 2026.

Peringatan haul tersebut bukan sekadar menjadi agenda tahunan untuk mengenang seorang tokoh dan pemimpin Banjar. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi serta momentum untuk menggali kembali nilai-nilai keagamaan, keilmuan, kebijaksanaan, keadilan, persatuan, dan kepedulian terhadap masyarakat yang diwariskan Sultan Sulaiman Rahmatullah.

Sejak awal kegiatan, suasana religius begitu terasa. Jamaah mengikuti rangkaian acara yang diisi dengan pembacaan Surah Yasin, Maulid Habsyi, pembacaan manakib Sultan Sulaiman Rahmatullah, zikir, serta doa haul.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat menggema di sekitar kawasan Kubah Sultan Sulaiman. Para jamaah tampak mengikuti rangkaian acara dengan penuh kekhusyukan sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kepada salah seorang tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Banjar.

Mengenang Sultan Sulaiman Rahmatullah, Raja Banjar ke-13

Dalam sambutan dan pembacaan manakib, Guru Ahmad selaku perwakilan zuriat Pagustian Kesultanan Banjar menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya haul ke-208 tersebut.

Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Desa Lihung dan seluruh zuriat Pagustian, alim ulama, guru agama, tokoh masyarakat, panitia, serta seluruh jamaah yang telah berpartisipasi dan memberikan dukungan sehingga kegiatan haul dapat terlaksana dengan baik.

Menurut penuturan dalam kegiatan tersebut, Sultan Sulaiman Rahmatullah bin Sultan Tahmidillah dikenal sebagai Raja Banjar ke-13 yang memiliki perhatian besar terhadap nilai-nilai agama, pendidikan, kehidupan masyarakat, serta pentingnya menegakkan keadilan.

Sosok Sultan Sulaiman dikenang sebagai pemimpin yang memiliki kedalaman spiritual dan perhatian terhadap ilmu pengetahuan. Dalam perjalanan hidupnya, beliau disebut banyak menimba ilmu kepada sejumlah ulama, guru, dan tokoh agama pada masanya.

“Beliau dikenal sebagai seorang pemimpin yang menjunjung tinggi nilai kebenaran, berusaha menegakkan keadilan, serta memberikan perhatian terhadap perkembangan ilmu dan kehidupan keagamaan masyarakat,” demikian disampaikan dalam rangkaian pembacaan manakib.

Bagi para zuriat dan jamaah yang hadir, mengenang Sultan Sulaiman bukan hanya tentang melihat perjalanan sejarah seorang raja, melainkan juga mengambil hikmah dari kepemimpinannya.

Seorang pemimpin, pada hakikatnya, tidak hanya dinilai dari kekuasaan yang dimilikinya, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu menghadirkan kemaslahatan, menjaga persatuan, menghormati ilmu, mendengarkan nasihat para ulama, serta memperlakukan masyarakat dengan kebijaksanaan dan keadilan.

Nilai-nilai inilah yang terus diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi sekarang dan masa mendatang.

Jejak Keilmuan dan Guru-Guru Sultan Sulaiman

Salah satu bagian penting dalam perjalanan hidup Sultan Sulaiman Rahmatullah adalah tradisi keilmuan yang membentuk pemikiran dan kepribadiannya.

Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam rangkaian haul, Sultan Sulaiman Rahmatullah bin Sultan Tahmidillah menimba ilmu kepada sejumlah guru dan ulama, di antaranya:

Syekh Khatib Mahmud Hidayatullah, yang disebut sebagai dzuriyat Khatib Dayan.
Ratu Syarifah Fatimah Muhdiah, yang dikenal sebagai guru dalam bidang makrifat.
Syarifah Rahmah, yang disebut sebagai guru dalam bidang khalwat.
Khatib Ahmad.
Khatib Muhammad Hasan.
Raden Abdullah.
Syekh Abdul Karim.
Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Tradisi menuntut ilmu tersebut menunjukkan betapa kuatnya hubungan antara kepemimpinan, pendidikan, dan ulama dalam perjalanan sejarah masyarakat Banjar.

Sultan Sulaiman disebut memiliki hubungan keilmuan dengan para ulama besar pada masanya termasuk Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, seorang ulama besar yang memiliki pengaruh penting dalam perkembangan keilmuan dan pendidikan Islam di Kalimantan Selatan.

Setelah wafatnya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, proses pencarian dan pendalaman ilmu tersebut, berdasarkan informasi dari zuriat dan manakib yang disampaikan dalam acara haul, diteruskan melalui generasi penerus dan lingkungan keilmuan keluarga beliau.

Baca Juga :  Datu Syekah Al 'Alimatul Fadhilah Siti Fatimah Bugis: Ulama Perempuan yang Nyaris Terlupakan

Tokoh-tokoh yang disebut menjadi bagian dari perjalanan keilmuan tersebut antara lain:

Al-Alim Al-‘Allamah Mufti Haji Jamaluddin.
Al-Alim Al-‘Allamah Mufti Muhammad As’ad.
Qadhi Abu Su’ud.
Penghulu Mahmud Yasin.

Jejak para guru tersebut menjadi gambaran bahwa tradisi ilmu memiliki posisi penting dalam perjalanan Sultan Sulaiman Rahmatullah.

Ilmu tidak hanya dipandang sebagai sarana untuk memperluas pengetahuan, tetapi juga sebagai jalan untuk membentuk akhlak, memperkuat keimanan, memperdalam kebijaksanaan, dan menjadi pedoman dalam menjalankan amanah kepemimpinan.

Kepemimpinan yang Berpijak pada Ilmu dan Kebijaksanaan

Dalam sejarah, seorang pemimpin sering kali dihadapkan pada berbagai persoalan yang membutuhkan keberanian dalam mengambil keputusan. Namun keberanian tanpa ilmu dapat membawa kesalahan, sedangkan kekuasaan tanpa keadilan dapat menjauhkan seorang pemimpin dari rakyatnya.

Karena itu, warisan yang dikenang dari Sultan Sulaiman Rahmatullah tidak hanya berkaitan dengan posisinya sebagai Raja Banjar ke-13, tetapi juga nilai kepemimpinan yang berusaha berpijak pada ilmu, agama, kebijaksanaan, dan keadilan.

Kepemimpinan yang baik bukanlah tentang meninggikan kedudukan pribadi, melainkan tentang bagaimana amanah dijalankan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

Nilai tersebut tetap relevan hingga saat ini.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, masyarakat menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan sosial, perkembangan teknologi, persoalan moral, hingga pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan.

Dalam situasi seperti itu, keteladanan para tokoh masa lalu dapat menjadi bahan renungan.

Belajar dari sejarah bukan berarti hidup di masa lalu. Sebaliknya, sejarah dapat menjadi cermin untuk memperbaiki masa kini dan mempersiapkan masa depan.

Tradisi menuntut ilmu, menghormati guru, menjaga hubungan dengan ulama, mempererat persaudaraan, serta mengutamakan kepentingan bersama merupakan nilai yang tetap penting untuk diwariskan kepada generasi muda.

Dalam pembacaan manakib juga disampaikan mengenai pentingnya nilai-nilai yang diwariskan Sultan Sulaiman Rahmatullah kepada keluarga dan generasi penerus.

Salah satu pesan yang terus dikenang adalah pentingnya menuntut ilmu agama, menjaga hubungan yang baik dengan alim ulama, serta memelihara kerukunan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Pesan tersebut memiliki makna yang mendalam.

Ilmu agama diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi mampu membentuk akhlak dan perilaku. Persaudaraan tidak hanya diwujudkan melalui hubungan keluarga, tetapi juga melalui kepedulian sosial dan semangat saling membantu.

Sementara itu, hubungan yang baik dengan para ulama dan guru menjadi bagian dari tradisi penghormatan terhadap ilmu.

Bagi masyarakat Banjar yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi keagamaan dan pendidikan Islam, nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari identitas dan kehidupan sosial.

Dalam perjalanan sejarah Kesultanan Banjar, Sultan Sulaiman Rahmatullah kemudian disebut memiliki penerus, yaitu putranya, Sultan Adam Al-Watsiq Billah.

Pergantian generasi tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah tidak berhenti pada satu tokoh. Setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga, memahami, dan meneruskan nilai-nilai baik yang telah diwariskan.

Haul Bukan Sekadar Mengenang, tetapi Meneladani akhlak yang mulia dari Sultan Sulaiman

Peringatan haul ke-208 Sultan Sulaiman Rahmatullah menjadi momentum penting bagi para zuriat Pagustian dan masyarakat untuk memperkuat kembali tali silaturahmi.

Haul tidak semata-mata menjadi kegiatan mengenang perjalanan hidup seorang tokoh yang telah wafat ratusan tahun silam. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk merenungkan kembali apa yang dapat dipelajari dari kehidupan dan perjuangan beliau.

Di tengah kehidupan modern, masyarakat sering kali dihadapkan pada kesibukan dan perubahan yang cepat. Dalam kondisi tersebut, hubungan kekeluargaan dan kepedulian sosial dapat menjadi semakin penting untuk dijaga.

Baca Juga :  Marak Bullying dan Tawuran Pelajar, Ketua BK DPRD Tanah Bumbu Serukan Aksi Nyata: Orang Tua dan Sekolah Harus Bergerak Bersama

Semangat kebersamaan yang terlihat dalam kegiatan haul menjadi bukti bahwa hubungan antara zuriat, ulama, tokoh masyarakat, dan warga tetap memiliki tempat yang kuat dalam kehidupan masyarakat.

Pertemuan seperti ini juga menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal sejarah dan tokoh-tokoh yang memiliki peran dalam perjalanan daerah dan masyarakatnya.

Sejarah yang tidak dikenalkan kepada generasi penerus berpotensi semakin jauh dari ingatan. Karena itu, peringatan haul dapat menjadi salah satu ruang pendidikan sejarah, budaya, dan nilai-nilai moral.

Generasi muda tidak hanya diharapkan mengetahui nama dan perjalanan tokoh-tokoh terdahulu, tetapi juga memahami nilai yang terkandung dalam perjuangan dan keteladanan mereka.

Nilai yang diwariskan Sultan Sulaiman Rahmatullah diharapkan tidak berhenti sebagai cerita yang disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Warisan terbesar dari seorang tokoh bukan hanya bangunan, makam, atau catatan sejarah. Warisan yang paling penting adalah nilai baik yang tetap hidup dalam perilaku masyarakat.

Kealiman dapat diteruskan melalui semangat belajar.

Kebijaksanaan dapat diwujudkan melalui sikap yang tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.

Keadilan dapat dijaga dengan memberikan hak kepada yang berhak dan tidak memandang seseorang berdasarkan kedudukan semata.

Persatuan dapat dibangun melalui kesediaan untuk saling menghormati meskipun terdapat perbedaan.

Kepedulian dapat diwujudkan dengan membantu sesama dan menjaga lingkungan sosial.

Semangat-semangat tersebut menjadi pesan penting yang dapat dipetik dalam peringatan Haul ke-208 Sultan Sulaiman Rahmatullah.

Harapan untuk Persatuan dan Kebangkitan Spiritual

Menutup rangkaian kegiatan, doa bersama dipanjatkan agar masyarakat senantiasa diberikan kedamaian, keberkahan, keselamatan, serta kemampuan untuk menjaga persatuan dan kesatuan dan kerukunan umat beragama

Haul ke-208 ini diharapkan dapat semakin mempererat hubungan antara zuriat Pagustian, alim ulama, guru agama, tokoh masyarakat, dan seluruh lapisan masyarakat.

Di tengah berbagai tantangan kehidupan, persatuan menjadi kekuatan yang harus terus dijaga.

Masyarakat yang kuat bukan hanya masyarakat yang maju secara ekonomi dan intelektual, tetapi juga masyarakat yang memiliki akhlak, kedalaman spiritual, kepedulian sosial, dan kemampuan untuk hidup rukun.

Karena itu, semangat dari peringatan haul ini diharapkan dapat menjadi energi positif bagi semua pihak untuk terus membangun kehidupan yang lebih baik.

Generasi mendatang diharapkan tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak yang baik, menghormati sejarah, menghargai guru dan ulama, mencintai persatuan, serta memiliki kepedulian terhadap sesama.

Peringatan Haul ke-208 Sultan Sulaiman Rahmatullah di Desa Lihung, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, pada akhirnya menjadi pengingat bahwa perjalanan sejarah selalu menyimpan pelajaran.

Dari keteladanan seorang pemimpin, masyarakat dapat belajar tentang amanah.

Dari kedekatan seorang pemimpin dengan ulama, masyarakat dapat belajar tentang pentingnya ilmu.

Dari nilai keadilan, masyarakat dapat belajar untuk menghormati hak sesama.

Dan dari semangat kebersamaan yang terlihat dalam peringatan haul, masyarakat dapat belajar bahwa persatuan dan silaturahmi adalah kekuatan yang harus terus dijaga.

Seluruh panitia dan pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan menyampaikan terima kasih kepada zuriat Pagustian, alim ulama, guru-guru agama, tokoh masyarakat, serta seluruh warga yang telah memberikan dukungan dan berpartisipasi dalam menyukseskan Haul ke-208 Sultan Sulaiman Rahmatullah.

Dengan semangat kebersamaan, warisan sejarah dan nilai-nilai luhur para pendahulu diharapkan dapat terus hidup, bukan hanya dalam catatan masa lalu, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat hari ini dan generasi yang akan datang.

Haul ke-208 Sultan Sulaiman Rahmatullah pun menjadi pengingat bahwa kemuliaan seorang pemimpin tidak hanya dikenang karena kedudukannya sebagai raja, tetapi juga karena ilmu, akhlak, kebijaksanaan, keadilan, serta manfaat yang diwariskan kepada masyarakat dan generasi penerusnya”(Team).

Share :

Baca Juga

Pendidikan

MTQ ke-23 Simpang Empat Resmi Ditutup, Bupati Tanah Bumbu Tekankan Al-Qur’an sebagai Landasan Pembentukan Generasi Berakhlak

Pendidikan

Pangeran Hidayatullah, Pejuang Banjar yang Dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Pemerintah Republik Indonesia pada 1999

Pendidikan

Sekolah Ar Rasyid Sukses Gelar Imunisasi Campak, Siswa Antusias Ikuti Program BIAS

Pendidikan

Rumah Banjar Gajah Manyusu, Jejak Kemegahan Hunian Para Pangeran Kesultanan Banjar yang Sarat Nilai Sejarah

Pendidikan

Menjelajahi Jejak Sejarah 159 Tahun Rumah Adat Banjar di Teluk Selong, Warisan Budaya yang Memikat Wisatawan dan Pecinta Sejarah Dua Rumah Adat Banjar Berusia Ratusan Tahun di Martapura, Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Kalimantan Selatan

Pendidikan

Mengenal Rumah Banjar Palimasan, Warisan Arsitektur Kesultanan Banjar yang Sarat Nilai Sejarah dan Keagamaan

Pendidikan

Rumah Banjar Bubungan Tinggi: Jejak Kemegahan Istana Kesultanan Banjar yang Menjadi Simbol Kejayaan Peradaban Banua

Pendidikan

Putra Ketua Baznas Tanah Bumbu Raih Golden Achievement Award, Bukti Didikan Religius KH Ustadz Hamzah