Home / Pendidikan

Kamis, 11 Juni 2026 - 21:51 WIB

Menjelajahi Jejak Sejarah 159 Tahun Rumah Adat Banjar di Teluk Selong, Warisan Budaya yang Memikat Wisatawan dan Pecinta Sejarah Dua Rumah Adat Banjar Berusia Ratusan Tahun di Martapura, Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Kalimantan Selatan

MARTAPURA, KALIMANTAN YANG SELATAN -Pelopornewskalimantan.com- 11Juni 2026 -Di tengah pesatnya perkembangan zaman, masih berdiri kokoh dua rumah adat Banjar berusia ratusan tahun yang menjadi saksi perjalanan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan. Berlokasi di kawasan Cagar Budaya Teluk Selong, Jalan Martapura Lama Nomor 28, Desa Teluk Selong Ulu, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar, keberadaan rumah adat ini menjadi destinasi wisata budaya yang menyimpan nilai sejarah sekaligus daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Terletak sekitar 30 kilometer dari Kota Banjarmasin dan 3,2 kilometer dari pusat Kota Martapura, kawasan Cagar Budaya Teluk Selong menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung yang ingin mengenal lebih dekat warisan budaya Banjar. Di lokasi ini berdiri dua rumah adat legendaris, yakni Rumah Bubungan Tinggi dan Rumah Gajah Baliku, yang hingga kini masih terawat serta tetap dihuni oleh keturunan pemilik aslinya.

Keberadaan kedua rumah tersebut tidak hanya menjadi simbol kebanggaan masyarakat Banjar, tetapi juga menjadi bukti nyata tingginya peradaban arsitektur tradisional yang berkembang di Kalimantan Selatan sejak abad ke-19.

Menyusuri Warisan Leluhur yang Masih Bertahan Hingga Kini
Mengunjungi Cagar Budaya Teluk Selong seakan membawa wisatawan kembali ke masa lalu. Setiap sudut bangunan menyimpan cerita tentang kehidupan masyarakat Banjar tempo dulu, lengkap dengan nilai-nilai adat, filosofi hidup, serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Keunikan rumah adat Banjar tidak hanya terlihat dari bentuk bangunannya yang megah, tetapi juga dari makna yang terkandung dalam setiap bagian rumah. Mulai dari struktur bangunan, pembagian ruang, hingga bentuk atapnya, semuanya memiliki fungsi dan filosofi yang mencerminkan tata kehidupan masyarakat Banjar.

Menariknya, pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk untuk menikmati keindahan situs budaya ini. Wisatawan hanya diimbau mengisi buku tamu dan dapat memberikan donasi sukarela sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian bangunan bersejarah tersebut. Kontribusi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan salah satu aset budaya bangsa yang sangat berharga.

Rumah Bubungan Tinggi, Simbol Keagungan Arsitektur Banjar
Dari berbagai jenis rumah adat Banjar, Rumah Bubungan Tinggi merupakan yang paling dikenal dan menjadi ikon budaya Kalimantan Selatan. Nama “Bubungan Tinggi” berasal dari bentuk atap utamanya yang menjulang tinggi dan runcing dengan kemiringan sekitar 45 derajat.

Baca Juga :  Institut Bisnis dan Teknologi Kalimantan Siap Lahirkan Generasi Unggul di Bidang Teknologi Informasi

Dalam sejarahnya, rumah jenis ini merupakan hunian para raja atau bangsawan Banjar. Oleh karena itu, Rumah Bubungan Tinggi memiliki kedudukan istimewa dibandingkan rumah adat Banjar lainnya. Kemegahan bentuk bangunannya mencerminkan status sosial, kewibawaan, dan kemakmuran pemiliknya.

Atap rumah menggunakan sirap kayu ulin, salah satu jenis kayu khas Kalimantan yang terkenal karena ketahanannya terhadap cuaca dan usia. Sirap tersebut disusun sedemikian rupa sehingga membentuk atap yang tinggi dan kokoh, sekaligus berfungsi mempercepat aliran air hujan turun dari bagian tengah bangunan.

Keindahan arsitektur ini tidak hanya menarik perhatian peneliti dan pecinta budaya, tetapi juga wisatawan yang ingin mengabadikan keunikan rumah adat Banjar melalui fotografi maupun dokumentasi perjalanan.

Dibangun Tahun 1867, Pernah Menjadi Markas Pejuang Kemerdekaan
Rumah Bubungan Tinggi yang berada di Cagar Budaya Teluk Selong memiliki sejarah panjang. Berdasarkan catatan yang diwariskan oleh keluarga pemilik, rumah tersebut dibangun sekitar tahun 1867 oleh pasangan H. M. Arif dan Hj. Fatimah, yang dikenal sebagai saudagar sukses pada masanya.

Dengan usia yang kini telah mencapai lebih dari 150 tahun, rumah tersebut menjadi salah satu bangunan tradisional Banjar yang masih bertahan hingga sekarang.

Tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah ini juga memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, bangunan tersebut pernah digunakan sebagai tempat berkumpul, markas, serta lokasi latihan para pejuang yang berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Jejak sejarah itu menjadikan Rumah Bubungan Tinggi bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol perjuangan dan semangat masyarakat Banjar dalam mempertahankan tanah air.

Tata Ruang yang Mencerminkan Filosofi Kehidupan Banjar
Rumah Bubungan Tinggi memiliki panjang sekitar 35,49 meter dan lebar 14 meter. Secara umum, bangunan terdiri atas tiga bagian utama, yaitu kaki bangunan, badan bangunan, dan atap.

Yang menarik, pembagian ruang di dalam rumah disusun berdasarkan tingkat privasi penghuninya. Semakin ke dalam, ruang yang ada semakin bersifat pribadi.

Secara garis besar, tata ruang rumah terdiri atas:

1. Kelompok Ruang Pelataran
Area penyambutan yang terdiri atas pelataran muka, pelataran tengah, dan pelataran dalam.

2. Kelompok Ruang Tamu
Merupakan area publik dan semi-publik yang digunakan untuk menerima tamu serta kegiatan sosial masyarakat.

3. Kelompok Ruang Tinggal
Bagian yang paling privat, digunakan sebagai ruang keluarga dan kamar tidur anggota keluarga.

Baca Juga :  Mengenal Sultan Adam: Raja Banjar yang Masih Memiliki Hubungan Kekerabatan Dengan Datu Kelampaian : Mengukir Sejarah dan Warisan Budaya

4. Kelompok Ruang Pelayanan
Meliputi ruang makan, dapur, area penyimpanan, hingga bagian belakang rumah yang menunjang aktivitas sehari-hari.

Pola ruang yang memanjang dari depan ke belakang menggambarkan tata kehidupan masyarakat Banjar yang menjunjung tinggi etika, penghormatan kepada tamu, dan batasan antara ruang publik serta ruang keluarga.

Rumah Gajah Baliku, Saudara Dekat Bubungan Tinggi
Selain Rumah Bubungan Tinggi, pengunjung juga dapat melihat Rumah Gajah Baliku yang berdiri di kawasan yang sama.

Sekilas kedua rumah ini tampak serupa, namun terdapat perbedaan mendasar pada tata ruangnya. Pada Rumah Bubungan Tinggi, lantai ruang tamu dibuat bertingkat sebagai simbol hierarki sosial yang dahulu digunakan dalam lingkungan keraton atau kediaman bangsawan.

Sebaliknya, Rumah Gajah Baliku memiliki lantai ruang tamu yang datar tanpa tingkatan. Bentuk atapnya juga berbeda karena menggunakan model atap perisai atau yang dikenal sebagai atap gajah pada beberapa bagian bangunan.

Perbedaan tersebut menunjukkan bagaimana arsitektur tradisional Banjar berkembang sesuai fungsi sosial dan kebutuhan penghuninya pada masa lalu.

Destinasi Wisata Budaya yang Layak Masuk Daftar Kunjungan
Di tengah maraknya wisata modern, Cagar Budaya Teluk Selong menawarkan pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan wawasan sejarah dan budaya. Tempat ini menjadi pilihan tepat bagi wisatawan, pelajar, peneliti, maupun masyarakat umum yang ingin memahami identitas budaya Banjar secara lebih mendalam.

Keaslian bangunan, nilai sejarah yang kuat, serta suasana tradisional yang masih terjaga menjadikan kawasan ini sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Kalimantan Selatan.

Bagi siapa pun yang berkunjung, Rumah Bubungan Tinggi dan Rumah Gajah Baliku bukan sekadar bangunan tua. Keduanya adalah warisan berharga yang menyimpan kisah perjalanan masyarakat Banjar selama lebih dari satu abad. Di balik setiap tiang kayu ulin, ukiran, dan ruangannya, tersimpan cerita tentang kejayaan masa lalu, semangat perjuangan, serta kearifan lokal yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Mengunjungi Cagar Budaya Teluk Selong bukan hanya tentang melihat rumah adat, tetapi juga tentang menyelami sejarah, mengenal budaya Banjar lebih dekat, dan merasakan denyut kehidupan tradisional yang masih bertahan di tengah modernisasi zaman”(Team)

Share :

Baca Juga

Pendidikan

Mengenal Rumah Banjar Palimasan, Warisan Arsitektur Kesultanan Banjar yang Sarat Nilai Sejarah dan Keagamaan

Pendidikan

Rumah Banjar Bubungan Tinggi: Jejak Kemegahan Istana Kesultanan Banjar yang Menjadi Simbol Kejayaan Peradaban Banua

Pendidikan

Putra Ketua Baznas Tanah Bumbu Raih Golden Achievement Award, Bukti Didikan Religius KH Ustadz Hamzah

Pendidikan

Pemkab. kotabaru Gelar Upacara Hari Pendidikan Nasional 2026

Pendidikan

Marak Bullying dan Tawuran Pelajar, Ketua BK DPRD Tanah Bumbu Serukan Aksi Nyata: Orang Tua dan Sekolah Harus Bergerak Bersama

Pendidikan

Disdikbud Kotabaru Tingkatkan Kualitas Pendidikan untuk Masa Depan Cerah

Pendidikan

Makam Pangeran Husin Mangkubumi Nata, Jejak Sejarah Kesultanan Banjar

Pendidikan

Jejak Sejarah di Martapura: Makam Pangeran Syarif Alwi dan Ratu Sekar Sari, Penghubung Banjar–Pontianak