BANJARMASIN —PeloporNews Kalimantan- 11 Januari 2026 -Kesultanan Banjar dikenal bukan hanya sebagai entitas politik di masa lampau, tetapi juga sebagai institusi yang memiliki akar spiritual dan keagamaan yang sangat kuat. Dalam catatan tradisi Kesultanan Banjar, setiap Sulthon yang pernah memerintah diyakini memiliki seorang guru pembimbing spiritual atau yang dikenal sebagai Murabbi Mursyid, sosok ulama yang membimbing perjalanan batin, keilmuan, dan kepemimpinan sang Sulthon.
Tradisi ini dipandang sebagai fondasi utama kepemimpinan Banjar, di mana seorang penguasa tidak hanya dituntut adil dan bijaksana secara administratif, tetapi juga kokoh dalam nilai-nilai Al-Qur’an dan ajaran Islam. Dalam catatan Pedatuan Kesultanan Banjar, disebutkan bahwa hubungan antara Sulthon dan Murabbi Mursyid menjadi penopang utama kewibawaan dan keberkahan kepemimpinan.
Daftar Sulthon Banjar dan Guru Murabbi Mursyidnya
Berdasarkan catatan sejarah dan tradisi lisan Kesultanan Banjar, berikut adalah sejumlah Sulthon Banjar beserta guru Murabbi Mursyid yang membimbing mereka:
Sulthon Suriansyah — dibimbing oleh Sayed Abdurrahman Ma’ruf Sulaiman
Sulthon Rahmatullah — dibimbing oleh Sayed Abdurrahman Ma’ruf Sulaiman
Sulthon Hidayatullah — dibimbing oleh Sayed Muhammad
Sulthon Mustainbillah — dibimbing oleh Sayed Ibrahim Ja’far Aminullah
Sulthon Inayatullah — dibimbing oleh Sayed Ibrahim Ja’far Aminullah
Sulthon Sa’idillah — dibimbing oleh Sayed Mahmud Hasan
Sulthon Tahlilullah — dibimbing oleh Sayed Mahmud Hasan
Sulthon Tahmidullah — dibimbing oleh Sayed Abu Bakar
Sulthon Hamidullah — dibimbing oleh Sayed Abu Bakar
Sulthon Tamjidillah — dibimbing oleh Sayed Abu Bakar
Sulthon Tahmidillah — dibimbing oleh Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
Sulthon Sulaiman Rahmatullah — dibimbing oleh Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
Sulthon Adam Al-Wasiqubillah — dibimbing oleh Khalifah Syekh Sahabuddin
Sulthon Abdurrahman — dibimbing oleh Syekh Muhammad Arsyad Pagatan
Sulthon Hidayatullah Halilullah — dibimbing oleh Syekh Qadhi Haji Mahmud
Catatan lain menyebutkan adanya petuah turun-temurun di kalangan bangsawan Banjar:
“Sulthon Banjar itu wajib memiliki guru Murabbi Mursyid. Bila tidak, maka berbahaya bagi kepemimpinannya,” demikian petuah yang dinisbatkan kepada para pendahulu.
Prosesi Spiritual Penobatan Sulthon Banjar
Dalam tradisi Kesultanan Banjar, penobatan seorang Sulthon tidak hanya bersifat simbolik-politik. Terdapat prosesi spiritual yang sarat makna, salah satunya adalah khataman dan pembacaan Al-Qur’an 30 juz secara bersama-sama (badarau) sebelum penobatan dilakukan.
Prosesi ini dimaknai sebagai ikrar bahwa seorang Sulthon akan memimpin dengan berlandaskan Al-Qur’an dan ajaran Islam. Tradisi lisan menyebutkan bahwa seorang Sulthon yang menjauh dari nilai-nilai Al-Qur’an akan kehilangan keberkahan kepemimpinannya.
Karomah dan Kepercayaan Masyarakat
Dalam pandangan masyarakat Banjar, para Sulthon yang memegang teguh ajaran Al-Qur’an dan bimbingan Murabbi Mursyid diyakini memiliki karamah, atau keistimewaan spiritual. Kepercayaan ini hidup sebagai bagian dari warisan budaya dan religius masyarakat Banjar, yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Para sejarawan dan budayawan menilai bahwa tradisi ini mencerminkan kuatnya integrasi antara kekuasaan, agama, dan moralitas dalam sistem pemerintahan Kesultanan Banjar pada masanya.
Warisan Nilai untuk Generasi Kini
Meski Kesultanan Banjar kini tidak lagi berkuasa secara politik, nilai-nilai spiritual yang diwariskan tetap menjadi inspirasi bagi masyarakat Kalimantan Selatan. Tradisi menjunjung tinggi ilmu, adab, dan bimbingan ulama dipandang sebagai warisan penting yang relevan hingga hari ini.
Catatan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan, dalam tradisi Banjar, tidak hanya diukur dari kekuatan dan kekuasaan, tetapi juga dari kedalaman ilmu, keteguhan iman, dan bimbingan para guru.
Catatan Pedatuan Kesultanan Banjar (Team)













