Home / Pendidikan

Selasa, 13 Januari 2026 - 13:14 WIB

Jejak Sejarah di Martapura: Makam Pangeran Syarif Alwi dan Ratu Sekar Sari, Penghubung Banjar–Pontianak

Oplus_16908288

Oplus_16908288

Martapura, peloporNews Kalimantan Selatan — Di tengah kawasan bersejarah Kelurahan Keraton, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, tersimpan sebuah situs penting yang menjadi saksi eratnya hubungan sejarah Kesultanan Banjar dan Kesultanan Pontianak. Situs tersebut adalah makam Pangeran Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Al Qadri bersama sang ibunda, Ratu Sekar Sari.

Makam ini berlokasi di Jalan Pangeran Hidayatullah, tidak jauh dari pusat sejarah Keraton Banjar. Keberadaannya hingga kini masih menjadi rujukan penting bagi peneliti sejarah, peziarah, serta masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat akar hubungan politik dan kekerabatan antar-kesultanan di Nusantara.

Sosok Ratu Sekar Sari dalam Sejarah Banjar

Ratu Sekar Sari, yang juga dikenal dengan nama Ratu Sarib Anom, memiliki nama asli Ratu Sekar Gading. Ia merupakan putri Sultan Banjar Sunan Nata Alam, yang lebih dikenal sebagai Sultan Tahmidillah atau Panembahan Dalam Pagar, hasil pernikahan dengan Ratu Syarifah Aminah binti Syarif Nuh Mufti Prambanan.

Baca Juga :  Mengenal Rumah Banjar Palimasan, Warisan Arsitektur Kesultanan Banjar yang Sarat Nilai Sejarah dan Keagamaan

Dalam silsilah kerajaan, Ratu Sekar Sari tercatat sebagai kakak kandung Sultan Sulaiman Rahmatullah, menjadikannya tokoh perempuan penting dalam lingkungan Kesultanan Banjar pada abad ke-18.

Pernikahan Politik dan Lahirnya Sejarah Baru
Pada tahun 1768 Masehi, Ratu Sekar Sari menikah dengan Sayyid Abdurrahman bin Husein Al Qadri. Pernikahan ini tidak hanya menyatukan dua keluarga bangsawan, tetapi juga menjadi titik penting dalam perjalanan sejarah Kalimantan.

Dalam upacara pernikahan tersebut, Sayyid Abdurrahman secara resmi diangkat sebagai bangsawan Kesultanan Banjar dengan gelar Pangeran, sementara gelar “Sayyid” yang disandangnya berubah menjadi Syarif. Sejak saat itu, ia dikenal dengan nama Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Alam Al Qadri.

Dari Banjar ke Pontianak
Tiga tahun setelah pernikahan tersebut, tepatnya pada 23 Oktober 1771, Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Alam mendirikan Kesultanan Kadriyah Pontianak. Ia kemudian dinobatkan sebagai Sultan pertama Pontianak dengan gelar Sultan Syarif Abdurrahman Al Qadri.

Baca Juga :  Tradisi Spiritual Kesultanan Banjar: Setiap Sulthon Dibimbing Guru Murabbi Mursyid

Peristiwa ini menandai lahirnya sebuah kesultanan baru yang kelak memainkan peran penting dalam sejarah Kalimantan Barat, baik dalam bidang pemerintahan, perdagangan, maupun penyebaran Islam.

Warisan yang Terus Dikenang
Keberadaan makam Pangeran Syarif Alwi dan Ratu Sekar Sari di Martapura menjadi simbol nyata hubungan historis antara Banjar dan Pontianak. Lebih dari sekadar situs pemakaman, tempat ini menyimpan kisah tentang diplomasi, pernikahan politik, dan lahirnya peradaban baru di Nusantara.

Bagi masyarakat dan generasi muda, situs ini menjadi pengingat bahwa sejarah besar sering lahir dari peristiwa-peristiwa keluarga yang sarat makna.

Al-Fatihah.

“Ya Allah, berilah kami manfaat dari keberkahan mereka, tunjukilah kami jalan kebaikan karena kemuliaan mereka, wafatkanlah kami di atas jalan mereka, dan lindungilah kami dari segala fitnah.”(Team)

(catatan Pedatuan pegustian Banjarmasin)

Share :

Baca Juga

Pendidikan

Bangun Budaya Baca Sejak Dini, Dispersip Kotabaru Gelar Story Telling Bersama PT Arutmin

Pendidikan

Serunya Anak TK Mengenal Literasi Lewat Cerita Kura-Kura dan Monyet

Pendidikan

Jejak Ulama Besar Keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syekh Ali Junaidi Berau

Pendidikan

Wali Katum, Sang Wali Tersembunyi dari Tabu Darat: Kisah Zuhud Gt.Muhammad Ramli yang Terus Dikenang

Pendidikan

Haul ke-208 Sultan Sulaiman Rahmatullah: Mengenang Raja Banjar ke-13 yang Dikenal Alim, Bijaksana dan Menjunjung Keadilan

Pendidikan

MTQ ke-23 Simpang Empat Resmi Ditutup, Bupati Tanah Bumbu Tekankan Al-Qur’an sebagai Landasan Pembentukan Generasi Berakhlak

Pendidikan

Pangeran Hidayatullah, Pejuang Banjar yang Dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Pemerintah Republik Indonesia pada 1999

Pendidikan

Sekolah Ar Rasyid Sukses Gelar Imunisasi Campak, Siswa Antusias Ikuti Program BIAS