Banjarmasin -PeloporNews Kalimantan – 14 Januari 2026- Makam Pangeran Husin Mangkubumi Nata bin Sultan Sulaiman Rahmatullah menjadi salah satu situs bersejarah penting yang menyimpan kisah panjang perjuangan dan jejak kekuasaan Kesultanan Banjar. Sosok Pangeran Husin bukanlah tokoh biasa. Ia merupakan kakek dari Pangeran Hidayatullah, Raja Terakhir Kesultanan Banjar, yang kemudian dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda ke Cianjur, Jawa Barat.
Berdasarkan catatan sejarah, kawasan di sekitar makam tersebut dulunya merupakan pusat aktivitas keluarga bangsawan Kesultanan Banjar. Tidak jauh dari lokasi makam, pernah berdiri rumah kediaman Pangeran Husin Mangkubumi Nata. Di rumah inilah, pada tahun 1822 Masehi, lahir seorang tokoh penting dalam sejarah Kalimantan Selatan, yakni Pangeran Hidayatullah.
Namun, jejak fisik rumah bersejarah itu kini tak lagi dapat ditemukan. Rumah kediaman Pangeran Husin Mangkubumi Nata dibumihanguskan oleh pasukan kolonial Belanda pada masa Perang Banjar, sebuah konflik besar yang menandai perlawanan rakyat Banjar terhadap penjajahan. Penghancuran tersebut menjadi bagian dari strategi Belanda untuk melemahkan kekuatan simbolik dan politik Kesultanan Banjar.
Kendati bangunan bersejarah itu telah musnah, ingatan kolektif masyarakat terhadap peristiwa penting di kawasan tersebut tetap terjaga. Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan peran Pangeran Hidayatullah dalam sejarah Kesultanan Banjar, pemerintah setempat kemudian menamai kawasan tersebut sebagai Jalan Pangeran Hidayatullah. Penamaan ini menjadi penanda sejarah sekaligus pengingat bahwa kawasan tersebut pernah menjadi tempat lahir seorang raja terakhir yang gigih melawan dominasi kolonial.
Keberadaan makam Pangeran Husin Mangkubumi Nata hingga kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan terakhir seorang bangsawan Kesultanan Banjar, tetapi juga sebagai simbol penting perjalanan sejarah, identitas, dan perjuangan masyarakat Banjar. Situs ini diharapkan dapat terus dijaga dan dilestarikan sebagai warisan sejarah agar generasi mendatang dapat memahami akar sejarah daerah serta perjuangan para pendahulu mereka.
Dengan menjaga dan merawat situs-situs bersejarah seperti makam Pangeran Husin Mangkubumi Nata, masyarakat tidak hanya melestarikan bangunan fisik, tetapi juga merawat nilai-nilai sejarah, budaya, dan jati diri bangsa yang lahir dari perjalanan panjang melawan penjajahan.(Team)













