Home / Pendidikan

Jumat, 31 Oktober 2025 - 11:00 WIB

Mengenang Sulthan Muhammad Aminullah, Penguasa Bijak Banjar yang Wafat di Pulau Laut”

BANJARMASIN —PeloporNews Kalimantan -Sejarah panjang Kesultanan Banjar tak lepas dari kiprah para sultannya yang meninggalkan jejak kebijaksanaan dan perjuangan. Salah satunya adalah Sulthan Muhammad Aminullah bin Sulthan Kuning, sosok pemimpin bijak yang dikenal sebagai Sulthan Banjar ke-11. Ia memerintah sekitar tahun 1759 hingga 1761 Masehi, masa yang singkat namun penuh makna bagi perjalanan pemerintahan Kesultanan Banjar.

Sulthan Muhammad Aminullah merupakan keponakan sekaligus menantu Sulthan Tamjidillah, Sulthan Banjar ke-10. Hubungan darah dan kekerabatan inilah yang kemudian menjadikan beliau dipercaya untuk memimpin sebagian wilayah penting di bawah Kesultanan Banjar. Atas kebijaksanaan Sulthan Tamjidillah, Sulthan Muhammad Aminullah bersama istrinya, Putri Sari Anjar Angsana, memperoleh mandat untuk memerintah wilayah Banjarmasin, Tanah Laut, dan Pulau Laut.

Sementara itu, Adipati Singosari, menantu lain dari Sulthan Tamjidillah, dipercaya memimpin wilayah Banua Lima. Sedangkan Sulthan Tamjidillah sendiri memilih berkedudukan sebagai Sulthan Sepuh di Istana Keraton Martapura, tempat yang menjadi pusat pemerintahan dan simbol keagungan Kesultanan Banjar pada masa itu.

Dalam menjalankan roda pemerintahan, Sulthan Muhammad Aminullah didampingi oleh Mangkubumi Pangeran Wiranata. Namun karena sering mengalami sakit, tugas-tugas kenegaraan kerap diwakilkan kepada Pangeran Suryawinata, seorang bangsawan yang dikenal bijak, berwibawa, dan berpengaruh di lingkungan istana.

Baca Juga :  Perjalanan Inspiratif SMAN 1 Simpang Empat ke Yogyakarta dan Malang: Petualangan Akademis dan Persaudaraan

Upaya pengobatan terus dilakukan. Diceritakan, Sulthan Muhammad Aminullah beberapa kali berangkat ke Pulau Laut dan pedalaman Dayak untuk mencari kesembuhan. Namun, takdir berkata lain. Kondisinya tidak kunjung membaik hingga akhirnya beliau wafat pada hari Senin, 4 Rabi‘ul Akhir 1175 Hijriah atau bertepatan dengan 2 November 1760 Masehi.
“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”

Beliau dimakamkan di wilayah kerajaan Pulau Laut, tanah yang juga menjadi saksi bisu atas perjalanan terakhirnya sebagai seorang pemimpin dan hamba Allah yang taat.

Sulthan Muhammad Aminullah meninggalkan lima orang anak, namun semuanya masih kecil dan belum cukup umur untuk memegang tampuk pemerintahan. Kekuasaan sementara pun kemudian dipegang oleh Mangkubumi Pangeran Suryawinata, yang tak lama berselang dinobatkan menjadi Sulthan Banjar ke-12 dengan gelar Sulthan Tahmidullah II — mengambil nama kehormatan dari kakeknya, Sulthan Tahmidullah I.

Di bawah pemerintahan Sulthan Tahmidullah II, Kesultanan Banjar mengalami kemajuan pesat dalam bidang pemerintahan dan perdagangan. Ia menjalin hubungan politik dengan Belanda di Banjarmasin, yang pada masa itu menguasai sebagian wilayah Kesultanan Banjar. Meskipun demikian, pengaruh budaya, ekonomi, dan politik Banjar tetap kuat dan berperan penting dalam dinamika Kalimantan Selatan kala itu.

Baca Juga :  PPDB 2024 SMK Negeri 1 Tanah Bumbu: Antusiasme Tinggi, Siswa Siap Hadapi Tantangan Industri

Adapun Sulthan Tamjidillah, yang berstatus sebagai Sulthan Sepuh di Martapura, masih berperan besar dalam memberikan nasihat dan kebijakan strategis bagi Kesultanan hingga wafat pada tahun 1764 Masehi. Sepeninggalnya, tahta Kesultanan Banjar dilanjutkan oleh putra mahkota tertuanya, meneruskan garis kepemimpinan yang diwariskan turun-temurun.

Kisah ini menjadi bagian penting dalam catatan sejarah Banjar, mengingatkan generasi kini akan nilai kebijaksanaan, pengabdian, dan tanggung jawab seorang pemimpin terhadap rakyatnya.
Sebagaimana termaktub dalam catatan pedatuan Pegustian Banjar, manaqib ini bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan refleksi spiritual dan sejarah kebesaran Banjar yang patut dikenang dan dilestarikan.

Tulisan ini disarikan dari naskah manaqib versi Pedatuan Pegustian Banjar Kesultanan Banjar, sebagai bentuk pelestarian sejarah dan warisan budaya luhur masyarakat Banjar yang telah memberi warna penting bagi perjalanan Kalimantan Selatan.”(Team)

Share :

Baca Juga

Pendidikan

Pangeran Syarif Nata Kusuma: Ulama Hadramaut yang Menjadi Menantu Sultan Adam dan Tokoh Penting Kesultanan Banjar

Pendidikan

Pemkab Kotabaru Serahkan Bantuan Perlengkapan Sekolah Untuk Tingkat Paud, SD dan SMP

Pendidikan

Anggota DPRD Tanah Bumbu Abdul Rahim Dorong Kampanye Anti-Bullying di Sekolah: Wujudkan Lingkungan Pendidikan yang Aman dan Inklusif

Pendidikan

Pangeran Suria Winata, Sang Bangsawan Banjar yang Jadi Regent Martapura di Masa Transisi Kesultanan ke Kolonial

Pendidikan

Jejak Heroik Demang Lehman, Panglima Perang Banjar yang Tak Takut Mati Demi Kemerdekaan: Melawan Kolonialisme Belanda

Pendidikan

Jejak Agung Raden Zakaria: Pendiri Masjid Pertama di Martapura Tahun 1596, Sang Ulama yang Menyatukan Banjar dengan Ilmu dan Cinta Damai

Pendidikan

Menggema di Tanah Bumbu! Peringatan Hari Santri 2025 Teguhkan Peran Pesantren Jaga Kemerdekaan dan Peradaban

Pendidikan

Penuh Tawa dan Cerita: Anak-Anak TK di Kotabaru Antusias Ikuti Kelas Literasi di Perpustakaan Daerah