Home / Pendidikan

Senin, 20 Oktober 2025 - 13:17 WIB

Jejak Sultan Rahmatullah: Pemimpin Bijak yang Menyatukan Iman dan Pemerintahan di Kesultanan Banjar

BANJARMASIN –PeloporNews Kalimantan -Sejarah panjang Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan tidak bisa dilepaskan dari sosok Sultan Rahmatullah, sang Sultan Banjar ke-2 yang dikenal sebagai penerus ajaran dan perjuangan ayahandanya, Sultan Suriansyah, dalam menegakkan nilai-nilai Islam di Tanah Banjar.

Sebelum naik tahta, beliau dikenal dengan nama Raden Rahmat, putra dari Sultan Suriansyah yang merupakan pendiri Kesultanan Banjar sekaligus Sultan pertama yang memeluk Islam. Setelah resmi menjadi penguasa, beliau bergelar Sultan Rahmatullah, dan di masa tuanya dikenal pula dengan gelar kehormatan Panembahan Batu Putih, sebuah gelar yang mencerminkan kebijaksanaan dan keteguhannya dalam memimpin.

Di masa pemerintahannya, pusat kerajaan berada di Istana Muara Kuin, Banjarmasin, yang kala itu menjadi jantung pemerintahan sekaligus pusat perdagangan penting di Kalimantan Selatan. Dari sinilah roda pemerintahan, diplomasi, dan dakwah Islam terus berputar.

Sultan Rahmatullah memerintah sekitar tahun 1545 hingga 1570 Masehi, selama lebih dari dua dekade yang dikenal sebagai periode stabilitas dan kemakmuran. Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Banjar mengalami perkembangan pesat dalam berbagai bidang: pemerintahan, ekonomi, hingga spiritualitas masyarakat.

Beliau dikenal sebagai sosok pemimpin religius, bijak, dan berwibawa yang senantiasa mengedepankan nilai keadilan dan kesejahteraan rakyat. Tidak hanya memperkuat tatanan pemerintahan Islam, Sultan Rahmatullah juga memperluas syiar Islam ke pelosok wilayah Banjar dengan menjalin hubungan erat bersama para ulama dan tokoh agama.

Baca Juga :  Kalimantan Selatan Gemilang di POMNAS 2023: UNISKA Banjarmasin Raih Sukses Besar

Dalam kehidupan rumah tangganya, Sultan Rahmatullah menikah dengan dua perempuan bangsawan terhormat yang juga memiliki garis keturunan ulama besar, yakni:

Ratu Muti’ah binti Pangeran Said Sundo Aji, dan

Ratu Siti Maisyarah binti Khatib Mahmud.

Dari kedua permaisuri tersebut, beliau dikaruniai tiga orang putra, yaitu:

Sultan Hidayatullah, yang kelak naik tahta menjadi Sultan Banjar ke-3, dikenal memperluas dakwah Islam ke wilayah pedalaman;

Pangeran Demang, dan

Raden Zakaria.

Keturunan Sultan Rahmatullah kemudian menjadi bagian penting dalam melanjutkan estafet pemerintahan dan penyebaran Islam di Kalimantan Selatan.

Pada masa pemerintahannya, hubungan diplomatik Kesultanan Banjar juga mengalami dinamika penting. Jika di masa Sultan Suriansyah hubungan keagamaan dan politik terjalin erat dengan Kesultanan Demak, maka pada masa Sultan Rahmatullah hubungan tersebut beralih kepada Kesultanan Pajang.

Peralihan ini terjadi setelah wafatnya Sultan Trenggono dari Demak dan berdirinya Pajang sebagai penerus kekuasaan Islam di Jawa. Namun demikian, Kesultanan Banjar tetap menjunjung tinggi loyalitas dan rasa hormat terhadap kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Hubungan baik itu terus dijaga sebagai simbol solidaritas dan ukhuwah Islamiyah antar-kerajaan di tanah air.

Baca Juga :  Mengungkap dan Mengenang Jejak Sejarah Raja Banjar ke 16: Sultan Hidayatullah Al Watsiq Billah, Ulama Berjubah Kuning

Setelah memimpin dengan penuh kebijaksanaan selama 25 tahun, Sultan Rahmatullah wafat pada hari Ahad, 14 Sya’ban 977 Hijriyah atau bertepatan dengan 22 Januari 1570 Masehi. Beliau dimakamkan di Kuin, Banjarmasin, berdekatan dengan makam ayahandanya, Sultan Suriansyah.

Makamnya kini menjadi salah satu situs bersejarah penting dan tempat ziarah religius bagi masyarakat Banjar serta peziarah dari berbagai daerah di Nusantara. Setiap tahun, banyak warga datang untuk mengenang jasa beliau dalam menyebarkan ajaran Islam dan membangun peradaban Banjar yang berlandaskan iman dan kebajikan.

Warisan terbesar Sultan Rahmatullah bukan hanya berupa kejayaan pemerintahan, melainkan juga keteladanan moral dan spiritual yang masih hidup hingga kini. Beliau meletakkan dasar kuat bagi tumbuhnya peradaban Islam di Kalimantan Selatan, menjadikan ajaran Islam bukan sekadar keyakinan, tetapi bagian dari identitas budaya dan kehidupan masyarakat Banjar.

Semangat religius, toleransi, dan kebijaksanaan yang beliau wariskan menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa, bahwa kekuasaan sejati bukanlah tentang tahta semata, tetapi tentang mengabdi kepada rakyat dan menegakkan nilai-nilai Ilahi.”(Team)

Share :

Baca Juga

Pendidikan

MTQ ke-23 Simpang Empat Resmi Ditutup, Bupati Tanah Bumbu Tekankan Al-Qur’an sebagai Landasan Pembentukan Generasi Berakhlak

Pendidikan

Pangeran Hidayatullah, Pejuang Banjar yang Dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Pemerintah Republik Indonesia pada 1999

Pendidikan

Sekolah Ar Rasyid Sukses Gelar Imunisasi Campak, Siswa Antusias Ikuti Program BIAS

Pendidikan

Rumah Banjar Gajah Manyusu, Jejak Kemegahan Hunian Para Pangeran Kesultanan Banjar yang Sarat Nilai Sejarah

Pendidikan

Menjelajahi Jejak Sejarah 159 Tahun Rumah Adat Banjar di Teluk Selong, Warisan Budaya yang Memikat Wisatawan dan Pecinta Sejarah Dua Rumah Adat Banjar Berusia Ratusan Tahun di Martapura, Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Kalimantan Selatan

Pendidikan

Mengenal Rumah Banjar Palimasan, Warisan Arsitektur Kesultanan Banjar yang Sarat Nilai Sejarah dan Keagamaan

Pendidikan

Rumah Banjar Bubungan Tinggi: Jejak Kemegahan Istana Kesultanan Banjar yang Menjadi Simbol Kejayaan Peradaban Banua

Pendidikan

Putra Ketua Baznas Tanah Bumbu Raih Golden Achievement Award, Bukti Didikan Religius KH Ustadz Hamzah