BANJARMASIN –PeloporNews Kalimantan -Sejarah panjang Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan tidak bisa dilepaskan dari sosok Sultan Rahmatullah, sang Sultan Banjar ke-2 yang dikenal sebagai penerus ajaran dan perjuangan ayahandanya, Sultan Suriansyah, dalam menegakkan nilai-nilai Islam di Tanah Banjar.
Sebelum naik tahta, beliau dikenal dengan nama Raden Rahmat, putra dari Sultan Suriansyah yang merupakan pendiri Kesultanan Banjar sekaligus Sultan pertama yang memeluk Islam. Setelah resmi menjadi penguasa, beliau bergelar Sultan Rahmatullah, dan di masa tuanya dikenal pula dengan gelar kehormatan Panembahan Batu Putih, sebuah gelar yang mencerminkan kebijaksanaan dan keteguhannya dalam memimpin.
Di masa pemerintahannya, pusat kerajaan berada di Istana Muara Kuin, Banjarmasin, yang kala itu menjadi jantung pemerintahan sekaligus pusat perdagangan penting di Kalimantan Selatan. Dari sinilah roda pemerintahan, diplomasi, dan dakwah Islam terus berputar.
Sultan Rahmatullah memerintah sekitar tahun 1545 hingga 1570 Masehi, selama lebih dari dua dekade yang dikenal sebagai periode stabilitas dan kemakmuran. Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Banjar mengalami perkembangan pesat dalam berbagai bidang: pemerintahan, ekonomi, hingga spiritualitas masyarakat.
Beliau dikenal sebagai sosok pemimpin religius, bijak, dan berwibawa yang senantiasa mengedepankan nilai keadilan dan kesejahteraan rakyat. Tidak hanya memperkuat tatanan pemerintahan Islam, Sultan Rahmatullah juga memperluas syiar Islam ke pelosok wilayah Banjar dengan menjalin hubungan erat bersama para ulama dan tokoh agama.
Dalam kehidupan rumah tangganya, Sultan Rahmatullah menikah dengan dua perempuan bangsawan terhormat yang juga memiliki garis keturunan ulama besar, yakni:
Ratu Muti’ah binti Pangeran Said Sundo Aji, dan
Ratu Siti Maisyarah binti Khatib Mahmud.
Dari kedua permaisuri tersebut, beliau dikaruniai tiga orang putra, yaitu:
Sultan Hidayatullah, yang kelak naik tahta menjadi Sultan Banjar ke-3, dikenal memperluas dakwah Islam ke wilayah pedalaman;
Pangeran Demang, dan
Raden Zakaria.
Keturunan Sultan Rahmatullah kemudian menjadi bagian penting dalam melanjutkan estafet pemerintahan dan penyebaran Islam di Kalimantan Selatan.
Pada masa pemerintahannya, hubungan diplomatik Kesultanan Banjar juga mengalami dinamika penting. Jika di masa Sultan Suriansyah hubungan keagamaan dan politik terjalin erat dengan Kesultanan Demak, maka pada masa Sultan Rahmatullah hubungan tersebut beralih kepada Kesultanan Pajang.
Peralihan ini terjadi setelah wafatnya Sultan Trenggono dari Demak dan berdirinya Pajang sebagai penerus kekuasaan Islam di Jawa. Namun demikian, Kesultanan Banjar tetap menjunjung tinggi loyalitas dan rasa hormat terhadap kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Hubungan baik itu terus dijaga sebagai simbol solidaritas dan ukhuwah Islamiyah antar-kerajaan di tanah air.

Setelah memimpin dengan penuh kebijaksanaan selama 25 tahun, Sultan Rahmatullah wafat pada hari Ahad, 14 Sya’ban 977 Hijriyah atau bertepatan dengan 22 Januari 1570 Masehi. Beliau dimakamkan di Kuin, Banjarmasin, berdekatan dengan makam ayahandanya, Sultan Suriansyah.
Makamnya kini menjadi salah satu situs bersejarah penting dan tempat ziarah religius bagi masyarakat Banjar serta peziarah dari berbagai daerah di Nusantara. Setiap tahun, banyak warga datang untuk mengenang jasa beliau dalam menyebarkan ajaran Islam dan membangun peradaban Banjar yang berlandaskan iman dan kebajikan.
Warisan terbesar Sultan Rahmatullah bukan hanya berupa kejayaan pemerintahan, melainkan juga keteladanan moral dan spiritual yang masih hidup hingga kini. Beliau meletakkan dasar kuat bagi tumbuhnya peradaban Islam di Kalimantan Selatan, menjadikan ajaran Islam bukan sekadar keyakinan, tetapi bagian dari identitas budaya dan kehidupan masyarakat Banjar.
Semangat religius, toleransi, dan kebijaksanaan yang beliau wariskan menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa, bahwa kekuasaan sejati bukanlah tentang tahta semata, tetapi tentang mengabdi kepada rakyat dan menegakkan nilai-nilai Ilahi.”(Team)













