Home / Pendidikan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 21:53 WIB

Jejak Ulama Besar Keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syekh Ali Junaidi Berau

MARTAPURA -Pelopornewskaliman.com-Kisah tentang Syekh Ali Junaidi Berau tidak hanya hidup dalam catatan perjalanan keilmuan seorang ulama Banjar. Di tengah keluarga, para keturunan, dan murid-muridnya, terdapat pula sejumlah cerita tentang karamah beliau yang terus dituturkan dari generasi ke generasi. Salah satu yang paling dikenal adalah kisah tentang suara beliau ketika mengajar, yang menurut penuturan keluarga dan murid dapat terdengar hingga jarak yang sangat jauh.

Nama Syekh Ali Junaidi Berau menempati tempat tersendiri dalam mata rantai ulama Kalimantan. Selain dikenal sebagai seorang alim yang memiliki perjalanan panjang dalam menuntut ilmu, beliau juga disebut sebagai salah satu tokoh yang meninggalkan pengaruh dalam perkembangan pendidikan dan keilmuan Islam, khususnya dalam jaringan ulama Banjar.

Syekh Ali Junaidi merupakan salah seorang keturunan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari atau Datu Kalampayan, ulama besar Banjar yang pemikiran dan warisan keilmuannya memiliki pengaruh luas hingga berbagai wilayah Nusantara.

Nama lengkap beliau adalah Al-‘Alimul ‘Allamah Qadhi Haji Muhammad Ali Junaidi bin Al-‘Alimul Fadhil Qadhi Haji Muhammad Amin bin Al-‘Alimul ‘Allamah Mufti Haji Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Beliau dilahirkan di Dalam Pagar, Martapura, Kalimantan Selatan, pada tahun 1285 Hijriah atau sekitar 1864 Masehi.

Menempuh Perjalanan Ilmu hingga Bertahun-tahun di Tanah Suci

Perjalanan hidup Syekh Ali Junaidi dikenal erat dengan tradisi rihlah ilmiah atau perjalanan panjang untuk menuntut ilmu. Sebagaimana dituturkan dalam riwayat keluarga, beliau tidak hanya belajar di tanah kelahirannya, tetapi juga menghabiskan masa yang panjang untuk memperdalam berbagai disiplin ilmu keislaman di luar Nusantara.

Syekh Ali disebut menghabiskan sekitar 15 tahun menuntut ilmu di Makkah. Setelah itu, perjalanan keilmuannya berlanjut ke berbagai wilayah lain, termasuk Madinah, sebelum kemudian dikisahkan melanjutkan perjalanan hingga ke kawasan Maghribi atau Maroko.

Perjalanan tersebut menunjukkan besarnya perhatian beliau terhadap pendidikan dan pencarian ilmu. Pada masa itu, perjalanan dari Nusantara menuju pusat-pusat keilmuan Islam bukanlah perkara sederhana. Perjalanan dapat berlangsung lama dan membutuhkan ketekunan, kesiapan fisik, serta pengorbanan yang besar.

Namun, bagi para ulama terdahulu, menuntut ilmu tidak hanya dipahami sebagai proses memperoleh pengetahuan. Perjalanan itu juga menjadi bagian dari pembentukan kepribadian, kedisiplinan, spiritualitas, serta tanggung jawab untuk membawa ilmu kembali kepada masyarakat.

Tuan Guru H. Syaifuddin Zuhri, yang disebut sebagai salah seorang cicit Syekh Ali Junaidi, menuturkan bahwa selama berada di Maroko, kakek buyutnya tersebut juga mempelajari berbagai cabang ilmu.

“Di Maroko, beliau mengaji bermacam ilmu agama tutur Tuan Guru H. Syaifuddin Zuhri.

Penuturan tersebut menjadi bagian dari kisah perjalanan spiritual dan keilmuan Syekh Ali yang hingga kini masih dikenang oleh keluarga serta masyarakat yang mengenal silsilah beliau.

Setelah menjalani perjalanan panjang dalam menuntut ilmu, Syekh Ali Junaidi kembali dan melanjutkan pengabdian kepada masyarakat.

Beliau kemudian dikenal sebagai salah seorang ulama terkemuka. Dalam perjalanan pengabdiannya, Syekh Ali juga disebut pernah menjabat sebagai Mufti di Banjarmasin, menggantikan Syekh Jamaluddin yang dikenal masyarakat dengan sebutan Surgi Mufti.

Baca Juga :  Datu Syekah Al 'Alimatul Fadhilah Siti Fatimah Bugis: Ulama Perempuan yang Nyaris Terlupakan

Kedudukan seorang mufti pada masa itu memiliki peran penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Seorang mufti tidak hanya dipandang sebagai orang yang memiliki kedalaman ilmu, tetapi juga menjadi rujukan dalam menjawab berbagai persoalan keagamaan yang muncul di tengah masyarakat.

Jejak keilmuan Syekh Ali kemudian tidak hanya dikenal melalui jabatan atau kedudukannya, tetapi juga melalui aktivitas beliau dalam mengajar dan membimbing para murid.

Di sinilah salah satu kisah yang paling sering diceritakan tentang karamah Syekh Ali Junaidi muncul.

Ketika Suara Pengajian Dikisahkan Menembus Jarak yang Jauh

Menurut penuturan yang diwariskan oleh keluarga dan murid-muridnya, Syekh Ali Junaidi pernah menggelar majelis pengajian di kediamannya di Desa Tatudung, di kawasan yang berada di seberang Sungai Jingah.

Dalam kisah yang terus dituturkan hingga sekarang, suara Syekh Ali ketika menyampaikan pelajaran dikatakan dapat didengar oleh para murid yang berada jauh dari tempat beliau mengajar, bahkan hingga ke seberang Sungai Martapura.

Secara sederhana, penuturan tersebut menggambarkan bahwa ketika Syekh Ali mengajar, suara beliau dikisahkan masih dapat terdengar dari jarak yang sangat jauh.

Bagi keluarga dan orang-orang yang meyakini kisah tersebut, peristiwa itu dipandang sebagai salah satu bentuk karamah, yakni keistimewaan yang dalam tradisi Islam diyakini dapat diberikan Allah kepada hamba-Nya yang saleh.

Namun, sebagai kisah yang diwariskan secara turun-temurun, cerita tersebut tetap diposisikan sebagai bagian dari penuturan keluarga dan tradisi lisan yang hidup di sekitar sosok Syekh Ali Junaidi.

Yang tidak kalah penting dari kisah tersebut adalah gambaran mengenai besarnya perhatian masyarakat terhadap majelis ilmu yang beliau selenggarakan.

Pada masa ketika sarana komunikasi belum berkembang seperti sekarang, sebuah majelis pengajian menjadi pusat pertemuan masyarakat. Orang datang untuk belajar, bertanya, mendengarkan nasihat, sekaligus mempererat hubungan sosial dan spiritual.

Karena itu, kisah tentang suara Syekh Ali yang terdengar jauh juga menjadi bagian dari cara masyarakat mengenang besarnya pengaruh seorang guru di tengah murid-muridnya.

Alm Tuan Guru H. Syaifuddin Zuhri atau yang dikenal dengan sapaan Guru Banjar Indah juga menuturkan adanya hubungan keilmuan antara Syekh Ali Junaidi dengan Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, ulama besar Banjar yang lebih dikenal masyarakat sebagai Abah Guru Sekumpul.

Menurut penuturan tersebut, Syekh Ali Junaidi merupakan salah seorang murabbi atau guru dalam mata rantai keilmuan yang berkaitan dengan Abah Guru Sekumpul.

“Beliau mengajar tarekat Naqsyabandiyah,” tutur Guru Banjar Indah.

Tarekat Naqsyabandiyah sendiri memiliki sejarah panjang dalam perkembangan tradisi tasawuf di berbagai wilayah dunia Islam, termasuk di Nusantara.

Melalui hubungan guru dan murid, ilmu tidak hanya diwariskan dalam bentuk tulisan atau kitab. Ada pula tradisi transmisi keilmuan yang berlangsung melalui pengajaran langsung, pembinaan spiritual, sanad, serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Eco Enzyme: Inovasi Terbaru dalam Pertanian untuk Menangkal Penyakit Tanaman Karet

Dalam tradisi masyarakat Banjar, silsilah keilmuan seorang ulama memiliki arti penting. Sebab, dari sanalah masyarakat dapat melihat bagaimana ilmu diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Nama Syekh Ali Junaidi pun menjadi salah satu bagian dari mata rantai panjang tersebut.

Perjalanan hidup Syekh Ali Junaidi membawa beliau dari tanah kelahirannya di Dalam Pagar, Martapura, menuju berbagai pusat keilmuan Islam di luar Nusantara, sebelum akhirnya meninggalkan jejak pengabdian yang dikenang di Kalimantan.

Syekh Ali Junaidi yang juga dikenal dengan sebutan Syekh Ali Junaidi Berau wafat pada 20 Ramadhan 1362 Hijriah, yang dalam sejumlah penuturan disebut sekitar tahun 1941 Masehi, pada usia sekitar 71 tahun.

Beliau dimakamkan di kawasan Tanjung Redeb, Gang Tabur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Hingga kini, nama beliau masih dikenang melalui cerita keluarga, murid, serta masyarakat yang menjaga warisan para ulama terdahulu.

Sebagian mengenang beliau karena kedalaman ilmunya. Sebagian lagi mengingat perjalanan panjangnya yang membawa beliau dari Tanah Banjar menuju Makkah, Madinah, hingga wilayah Maghribi.

Dan bagi keluarga serta para murid yang mewariskan cerita tentang beliau, terdapat pula kisah-kisah karamah yang menjadi bagian dari ingatan kolektif tentang seorang ulama.

Kisah karamah memang sering menjadi bagian yang menarik perhatian dalam cerita kehidupan para ulama. Namun, perjalanan Syekh Ali Junaidi Berau juga menunjukkan hal lain yang tidak kalah penting: ketekunan dalam menuntut ilmu dan kesediaan untuk mengabdikan ilmu tersebut kepada masyarakat.

Belasan tahun di Makkah dan Madinah, perjalanan ke berbagai wilayah keilmuan, aktivitas mengajar, serta kedudukannya dalam kehidupan keagamaan masyarakat menjadi gambaran tentang perjalanan panjang seorang alim dari Tanah Banjar.

Cerita tentang suara beliau yang dikisahkan mampu terdengar hingga jarak yang jauh mungkin menjadi salah satu kisah paling masyhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Namun, di balik cerita tersebut terdapat warisan yang lebih luas.

Warisan itu adalah tentang seorang ulama yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam perjalanan berbagai ilmu pengetahuan Agama

Dari Dalam Pagar di Martapura, menuju pusat-pusat keilmuan Islam di Tanah Suci dan kawasan Maghribi.

Kemudian kembali untuk mengajar, membimbing, dan meninggalkan mata rantai keilmuan yang terus dikenang.

Hingga kini, nama Syekh Ali Junaidi Berau tetap menjadi bagian dari sejarah panjang ulama Banjar.

Dan seperti halnya perjalanan para ulama terdahulu, sebagian jejaknya tercatat dalam sejarah, sebagian hidup dalam silsilah keluarga, sementara sebagian lainnya bertahan melalui cerita yang terus disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di antara semua kisah itu, satu cerita terus dikenang: ketika seorang ulama mengajar, suaranya dikisahkan mampu menjangkau mereka yang berada jauh dari tempat majelis berlangsung—sebuah kisah karamah yang hingga kini masih hidup dalam ingatan keluarga dan para penerus jejak keilmuan Syekh Ali Junaidi Berau.”(Team)

Share :

Baca Juga

Pendidikan

Wali Katum, Sang Wali Tersembunyi dari Tabu Darat: Kisah Zuhud Gt.Muhammad Ramli yang Terus Dikenang

Pendidikan

Haul ke-208 Sultan Sulaiman Rahmatullah: Mengenang Raja Banjar ke-13 yang Dikenal Alim, Bijaksana dan Menjunjung Keadilan

Pendidikan

MTQ ke-23 Simpang Empat Resmi Ditutup, Bupati Tanah Bumbu Tekankan Al-Qur’an sebagai Landasan Pembentukan Generasi Berakhlak

Pendidikan

Pangeran Hidayatullah, Pejuang Banjar yang Dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Pemerintah Republik Indonesia pada 1999

Pendidikan

Sekolah Ar Rasyid Sukses Gelar Imunisasi Campak, Siswa Antusias Ikuti Program BIAS

Pendidikan

Rumah Banjar Gajah Manyusu, Jejak Kemegahan Hunian Para Pangeran Kesultanan Banjar yang Sarat Nilai Sejarah

Pendidikan

Menjelajahi Jejak Sejarah 159 Tahun Rumah Adat Banjar di Teluk Selong, Warisan Budaya yang Memikat Wisatawan dan Pecinta Sejarah Dua Rumah Adat Banjar Berusia Ratusan Tahun di Martapura, Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Kalimantan Selatan

Pendidikan

Mengenal Rumah Banjar Palimasan, Warisan Arsitektur Kesultanan Banjar yang Sarat Nilai Sejarah dan Keagamaan