Home / Pendidikan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:42 WIB

Wali Katum, Sang Wali Tersembunyi dari Tabu Darat: Kisah Zuhud Gt.Muhammad Ramli yang Terus Dikenang

HULU SUNGAI TENGAH,-Pelopornewskalimantan.com- Di sebuah desa di kawasan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, nama Gt.Muhammad Ramli bin Katutut terus hidup dalam ingatan masyarakat. Sosok yang semasa kecil disebut Artum Ali itu lebih dikenal dengan nama Wali Katum, sebuah sebutan yang dipercaya berasal dari bahasa Arab dan dimaknai sebagai tersembunyi.

Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam kisah yang berkembang di tengah masyarakat dan diceritakan dalam sejumlah manakib,Gt Muhammad Ramli dikenal sebagai sosok yang menjalani kehidupan sederhana, gemar mengasingkan diri untuk beribadah, serta memiliki kecintaan yang besar terhadap Al-Qur’an dan selalu bersholawat kepada Baginda Rasulullah Saw

Namun, bagi masyarakat yang mengenalnya, sosok Wali Katum bukan hanya dikenang karena kisah-kisah keistimewaan yang menyertainya. Lebih dari itu, kehidupan beliau menjadi cerita tentang kesederhanaan, ketekunan beribadah, dan sikap menjauhkan diri dari kemewahan dunia.

Muhammad Ramli bin Katutut wafat pada 24 Juni 1982 Masehi atau bertepatan dengan 29 Sya’ban 1402 Hijriah. Saat wafat, usia beliau diperkirakan sekitar 70 tahun.

Hingga kini, makamnya yang berada di Desa Tabu Darat, Kecamatan Labuan Amas Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, menjadi salah satu tempat yang dikenal masyarakat sebagai bagian dari jejak sejarah dan tradisi keagamaan di daerah tersebut.

Salah satu cerita yang paling sering dikisahkan mengenai Wali Katum adalah kecintaan mendalam terhadap Al-Qur’an

Dalam manakib yang berkembang di masyarakat, Muhammad Ramli disebut hampir selalu membawa mushaf Al-Qur’an ke mana pun beliau pergi. Saat memiliki waktu luang, berhenti dalam perjalanan, maupun beristirahat, beliau disebut mengisi waktunya dengan membaca kitab suci.

Kebiasaan itu dilakukan secara terus-menerus dalam waktu yang panjang.

Bahkan, terdapat cerita bahwa mushaf yang selalu dibawanya mengalami perubahan bentuk karena sering digunakan dan dipegang. Mushaf yang pada awalnya berbentuk persegi, menurut kisah yang berkembang, lama-kelamaan bagian sisi-sisinya terkikis hingga terlihat lebih lonjong.

Cerita tersebut kemudian menjadi salah satu gambaran yang diwariskan masyarakat untuk menggambarkan betapa kuatnya kecintaan Wali Katum terhadap Al-Qur’an.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kisah itu masih kerap disampaikan sebagai pengingat tentang pentingnya menyediakan waktu untuk membaca, memahami, dan mendekatkan diri kepada ajaran Al-Qur’an.

Memilih Khalwat dan Hidup dalam Kesederhanaan
Wali Katum juga dikenal melalui kisah kehidupannya yang sangat sederhana.

Dalam tradisi lisan dan manakib yang beredar, beliau disebut gemar melakukan khalwat dan uzlah, yaitu mengasingkan diri dari keramaian untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kebiasaan tersebut dikisahkan berlangsung selama kurang lebih 30 tahun.

Selama menjalani kehidupan yang jauh dari kemewahan, beliau disebut membatasi kebutuhan hidupnya dengan sangat ketat. Untuk makan sehari-hari, misalnya, Wali Katum dikisahkan hanya menggunakan satu genggam beras.

Apabila ada seseorang yang memberikan makanan atau beras dalam jumlah lebih banyak, beliau disebut memilih untuk tidak mengambilnya secara berlebihan.

Baca Juga :  Pangeran Wirakusuma: Pahlawan Abadi dari Kalimantan Selatan

Kesederhanaan itu juga tercermin dari tempat tinggalnya.

Rumah yang ditempatinya dikisahkan dibangun dengan bahan-bahan sederhana. Dindingnya disebut menggunakan daun rumbia, sementara bagian lantainya terbuat dari pelepah rumbia.

Tidak ada gambaran tentang kemewahan dalam kehidupan beliau.

Bagi masyarakat yang mengenang kisahnya, kehidupan Wali Katum menjadi gambaran tentang sikap zuhud: menjalani hidup secukupnya, tidak berlebihan, serta tidak menjadikan harta dan kemewahan sebagai tujuan utama kehidupan.

Di antara berbagai cerita yang berkembang mengenai Wali Katum, salah satu yang paling dikenal masyarakat adalah kisah pertemuan seorang jemaah haji asal Hulu Sungai dengan seorang lelaki di Makkah.

Kisah tersebut telah lama diceritakan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam cerita masyarakat mengenai sosok Muhammad Ramli.

Menurut cerita yang berkembang, seorang jemaah haji dari wilayah Hulu Sungai sedang berada di Makkah ketika melihat seorang lelaki berjalan tanpa menggunakan alas kaki.

Ia disebut berjalan berjingkat-jingkat, seolah berusaha menghindari panasnya tanah yang diinjaknya. Melihat kondisi tersebut, sang jemaah merasa iba dan kemudian menghampirinya.

Jemaah itu bertanya apakah telapak kaki lelaki tersebut tidak terasa panas karena berjalan tanpa alas kaki.

Namun, lelaki tersebut dikisahkan menjawab bahwa kakinya tidak merasakan panas.

Percakapan kemudian berlanjut.

Karena penasaran, jemaah tersebut bertanya tentang nama dan asal lelaki itu.

Lelaki tersebut memperkenalkan dirinya sebagai Muhammad Ramli.

Ketika ditanya berasal dari mana, ia dikisahkan menjawab bahwa dirinya berasal dari Desa Tabu Darat, Hulu Sungai Tengah.

Merasa kasihan melihat lelaki tersebut berjalan tanpa alas kaki, sang jemaah kemudian membelikannya sepasang terompah.

Lelaki itu menerima pemberian tersebut.

Namun, menurut cerita yang berkembang, setelah menerima terompah itu, lelaki tersebut kemudian tidak lagi terlihat.

Peristiwa itu meninggalkan tanda tanya bagi sang jemaah.

Saat itu, ia belum mengetahui bahwa pertemuan tersebut kelak menjadi kisah yang terus diceritakan masyarakat.

Setelah menyelesaikan ibadah haji dan kembali ke kampung halaman, ingatan sang jemaah kembali tertuju kepada lelaki bernama Muhammad Ramli yang ditemuinya di Tanah Suci.

Rasa penasaran kemudian mendorongnya untuk mencari sosok tersebut.

Ia pun mendatangi Desa Tabu Darat.

Setibanya di desa itu, ia bertanya kepada masyarakat mengenai Muhammad Ramli yang pernah ditemuinya di Makkah.

Menurut kisah yang berkembang, masyarakat kemudian menyampaikan bahwa pada masa tersebut tidak ada warga bernama Muhammad Ramli yang diketahui sedang menunaikan ibadah haji.

Namun, masyarakat membenarkan bahwa memang terdapat seorang warga bernama Muhammad Ramli.

Sosok itu dikenal sebagai pribadi yang hidup sederhana dan banyak menghabiskan waktunya dalam khalwat dan ibadah.

Sang jemaah kemudian meminta untuk diantarkan ke tempat tinggal Muhammad Ramli.

Ketika tiba di rumah sederhana tersebut, ia dikisahkan terkejut.

Sosok yang berdiri di hadapannya adalah lelaki yang pernah ditemuinya di Makkah.

Baca Juga :  Menggema di Tanah Bumbu! Peringatan Hari Santri 2025 Teguhkan Peran Pesantren Jaga Kemerdekaan dan Peradaban

Keterkejutannya semakin bertambah ketika ia melihat sepasang terompah yang dahulu dibelikannya di Tanah Suci tergantung di dinding rumah Muhammad Ramli.

Kisah inilah yang kemudian berkembang luas di tengah masyarakat.

Bagi sebagian masyarakat dan peziarah yang mengenal manakib beliau, peristiwa tersebut diyakini sebagai salah satu tanda keistimewaan Wali Katum. Dalam tradisi Islam, kisah-kisah mengenai keistimewaan seorang wali sering dipahami sebagai karamah.

Meski demikian, sebagai cerita yang berkembang melalui tradisi lisan dan manakib, kisah tersebut perlu ditempatkan dalam konteks kepercayaan dan tradisi masyarakat yang mewariskannya.

Selain kisah pertemuan di Makkah, terdapat pula sejumlah cerita lain yang berkembang mengenai Wali Katum.

Dalam penuturan masyarakat, beliau disebut memiliki kemampuan mengetahui keberadaan barang yang tercecer, memahami keadaan orang yang datang berkunjung, hingga kisah mengenai keberadaannya di tempat yang jauh dalam waktu yang singkat.

Kisah-kisah tersebut menjadi bagian dari manakib dan tradisi lisan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi sebagian masyarakat, cerita itu bukan sekadar kisah tentang sesuatu yang luar biasa. Ada pesan yang dianggap lebih penting di baliknya.

Muhammad Ramli, yang kemudian dikenal sebagai Wali Katum, tidak dikenal karena kehidupan yang penuh kemewahan atau kedudukan duniawi. Justru sebaliknya, kisah hidupnya selalu menggambarkan kesederhanaan.

Beliau dikisahkan memilih hidup jauh dari kemewahan, memperbanyak ibadah, mencintai Al-Qur’an, dan membatasi kebutuhan hidup.

Dari sinilah, sebutan “Katum” semakin melekat.

Seorang sosok yang hidup sederhana, tidak banyak menonjolkan diri, dan dalam keyakinan masyarakat, kewaliannya lama tidak diketahui secara luas

Kini, makam Muhammad Ramli atau Wali Katum berada di Desa Tabu Darat, Kecamatan Labuan Amas Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

Nama Wali Katum masih dikenal dan dikenang, terutama oleh masyarakat yang memiliki keterikatan dengan sejarah ulama dan tokoh agama di kawasan Banua.

Kisah tentang beliau terus disampaikan dari mulut ke mulut, dalam keluarga, majelis, dan berbagai pertemuan masyarakat.

Setiap generasi memiliki cara tersendiri dalam memaknai cerita tersebut.

Ada yang mengenangnya melalui kisah perjalanan spiritualnya. Ada yang terkesan dengan kecintaannya terhadap Al-Qur’an. Ada pula yang menjadikan kehidupannya yang sederhana sebagai teladan.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, kisah Wali Katum menghadirkan pesan tentang kehidupan yang barangkali sederhana, tetapi memiliki makna mendalam.

Tentang seseorang yang dikisahkan tidak mengejar popularitas.

Tentang seorang hamba yang memilih kesunyian daripada kemegahan.

Tentang kehidupan yang dijalani dengan membatasi keinginan, memperbanyak ibadah, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Mungkin itulah yang membuat nama Muhammad Ramli bin Katutut tetap dikenang hingga kini.

Di sebuah desa di Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, jejak seorang lelaki sederhana yang dikenal sebagai Wali Katum terus hidup dalam ingatan masyarakat.

Sosok yang, sesuai dengan makna namanya, diyakini sebagai “wali yang tersembunyi.”(Team)

Share :

Baca Juga

Pendidikan

Jejak Ulama Besar Keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syekh Ali Junaidi Berau

Pendidikan

Haul ke-208 Sultan Sulaiman Rahmatullah: Mengenang Raja Banjar ke-13 yang Dikenal Alim, Bijaksana dan Menjunjung Keadilan

Pendidikan

MTQ ke-23 Simpang Empat Resmi Ditutup, Bupati Tanah Bumbu Tekankan Al-Qur’an sebagai Landasan Pembentukan Generasi Berakhlak

Pendidikan

Pangeran Hidayatullah, Pejuang Banjar yang Dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Pemerintah Republik Indonesia pada 1999

Pendidikan

Sekolah Ar Rasyid Sukses Gelar Imunisasi Campak, Siswa Antusias Ikuti Program BIAS

Pendidikan

Rumah Banjar Gajah Manyusu, Jejak Kemegahan Hunian Para Pangeran Kesultanan Banjar yang Sarat Nilai Sejarah

Pendidikan

Menjelajahi Jejak Sejarah 159 Tahun Rumah Adat Banjar di Teluk Selong, Warisan Budaya yang Memikat Wisatawan dan Pecinta Sejarah Dua Rumah Adat Banjar Berusia Ratusan Tahun di Martapura, Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Kalimantan Selatan

Pendidikan

Mengenal Rumah Banjar Palimasan, Warisan Arsitektur Kesultanan Banjar yang Sarat Nilai Sejarah dan Keagamaan