Martapura —Pelopornewskalimantan.com-10 April 2026- Sosok ulama kharismatik Martapura Kalimantan Selatan, KH. Zainal Ilmi Al-Banjari, menjadi salah satu figur penting dalam sejarah perkembangan pendidikan Islam di tanah Banjar. Dikenal luas dengan sebutan H. Anang Ilmi, beliau merupakan penerus kepemimpinan Pondok Pesantren Dalam Pagar setelah era Syekh Abdurrahman Siddiq berakhir.
Pergantian kepemimpinan tersebut menyimpan kisah yang sarat makna dan nilai keteladanan. Menjelang keberangkatan Syekh Abdurrahman Siddiq ke Tembilahan, Riau, muncul pertanyaan dari kalangan keluarga mengenai siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan pesantren. Dengan penuh keyakinan, beliau menunjuk Zainal Ilmi sebagai pengganti.
“Anang Ilmi manggantiakan diaku,” ujar Syekh Abdurrahman Siddiq sambil menepuk bahu Zainal Ilmi.
Penunjukan tersebut sontak mengejutkan Zainal Ilmi. Ia yang tidak pernah menyangka akan memikul amanah besar itu langsung tertunduk. Rasa tawadhu (rendah hati) yang mendalam bahkan disebut terus membekas hingga akhir hayatnya—ia dikenal sebagai sosok yang senantiasa menundukkan kepala sebagai bentuk kerendahan hati di hadapan amanah dan kebesaran Allah.
KH. Zainal Ilmi memiliki garis keturunan ulama terkemuka Banjar. Ia adalah putra dari Syekh Abdussamad dan merupakan bagian dari keturunan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, (Datuk Kelampaian)salah satu ulama paling berpengaruh dalam sejarah Islam di Nusantara.
Beliau lahir di Kampung Dalam Pagar, Martapura, pada Jumat malam atau Sabtu dini hari pukul 04.30 WITA, bertepatan dengan 17 Rabiul Awwal 1304 Hijriah atau tahun 1886 Masehi.
Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan religius yang kuat, membentuk karakter keilmuan dan spiritualitasnya yang mendalam.
Dalam menuntut ilmu, KH. Zainal Ilmi dikenal tekun dan bersungguh-sungguh. Ia memulai pendidikan agama langsung dari ayahnya selama enam tahun, mempelajari berbagai cabang ilmu agama dan ilmu alat.
Selanjutnya, ia memperdalam ilmunya kepada sejumlah ulama terkemuka, di antaranya:
Tuan Guru Muhammad Amin
Tuan Guru Abdurrahman Muda
Tuan Guru Abbas bin Mufti Abdul Jalil
Tuan Guru Abdullah
Tuan Guru Muhammad Ali
Tuan Guru Khalid
Tuan Guru Nawawi
Tuan Guru Ismail
serta tentu saja kepada gurunya, Syekh Abdurrahman Siddiq
Kealiman beliau diakui luas oleh masyarakat. Bahkan, semasa kecil, KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani disebut sering datang hanya untuk mencium tangan beliau sebagai bentuk penghormatan kepada ulama yang dimuliakan.
Selain dikenal alim, KH. Zainal Ilmi juga merupakan pribadi yang wara’, tawadhu, dan sangat dermawan. Dalam kesehariannya, beliau diam-diam membantu keluarga dan masyarakat yang kurang mampu dengan memberikan santunan secara rutin setiap bulan—tanpa diketahui banyak orang.
Pengaruhnya tidak hanya dirasakan di kalangan masyarakat, tetapi juga di lingkungan pemerintahan pada masanya. Keilmuan dan kesalehannya menjadikan beliau sosok yang dihormati lintas kalangan.
KH. Zainal Ilmi wafat pada 13 Dzulqaidah 1375 Hijriah atau bertepatan dengan 21 Juni 1956 Masehi, sekitar pukul 12.00 WITA di Kampung Karang Intan, Martapura.
Jenazah beliau dimakamkan di Kalampayan, Martapura sebuah tempat yang juga menjadi saksi sejarah perjalanan ulama besar Banjar.
Kisah hidup KH. Zainal Ilmi Al-Banjari menjadi cermin keteladanan bagi generasi masa kini. Kerendahan hati dalam menerima amanah, kesungguhan dalam menuntut ilmu, serta keikhlasan dalam membantu sesama menjadi nilai-nilai luhur yang terus hidup hingga sekarang.
Di tengah perubahan zaman, sosok seperti beliau menjadi pengingat bahwa kekuatan ilmu harus selalu berjalan beriringan dengan akhlak dan ketulusan.”(Team)













