Tanah Bumbu –PeloporNews Kalimantan -Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Tanah Bumbu menggelar Tasyakuran, Doa Bersama, serta Dialog Interaktif dalam rangka menyambut penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-4 RI sekaligus deklarator PKB, dan Syaikhona Muhammad Kholil, ulama besar Nusantara. Kegiatan berlangsung khidmat di kantor DPC PKB Tanah Bumbu pada Kamis (14/11) sekitar pukul 14.00 Wita.
Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh dan unsur partai, di antaranya Ustadz Hidayatullah, Ketua Fraksi PKB DPRD Tanah Bumbu Haris Fadilah, Anggota DPRD Tanah Bumbu H. Irin T, serta jajaran pengurus dan kader PKB.
Dalam dialog yang berlangsung hangat itu, Wakil Ketua I DPRD Tanah Bumbu dari PKB, H. Hasanuddin,Am.S.Ag.MA mengenang sosok Gus Dur sebagai pribadi yang penuh keteladanan, dermawan, dan mampu mempersatukan berbagai perbedaan di tengah masyarakat.
“Banyak sekali pelajaran dari Gus Dur. Beliau itu hatinya luas, mudah menolong siapa pun tanpa memandang latar belakang,” ujarnya membuka dialog.
H. Hasanuddin kemudian membagikan salah satu momen yang paling membekas saat mendampingi Gus Dur di masa awal berdirinya PKB.
“Pernah suatu hari ada seseorang datang mengadu panjang lebar soal kesulitannya. Gus Dur hanya mendengarkan dengan tenang. Setelah orang itu pergi, beliau berkata, ‘Orang susah itu bukan minta teori. Mereka hanya ingin didengarkan.’ Pesan sederhana, tetapi sangat dalam,” tuturnya.
Ia juga mengenang bagaimana Gus Dur selalu menghadirkan humor cerdas untuk meredakan ketegangan.
“Dalam rapat PKB tahun 1998, situasi waktu itu panas. Tiba-tiba Gus Dur berkata, ‘Kalau rapatnya panas, berarti AC-nya mati. Bukan akalnya.’ Semua langsung tertawa dan suasana mencair. Begitulah Gus Dur, selalu menenangkan,” tambahnya sambil tersenyum.
Menurut H. Hasanuddin, nilai-nilai yang diajarkan Gus Dur sangat membekas bagi para kader PKB.
“Gus Dur tidak pernah memandang perbedaan sebagai ancaman. Beliau sering berkata, ‘Jangan memaksa orang menjadi seperti kita. Justru perbedaan membuat Indonesia indah.’ Itu pesan yang selalu kami pegang,” ucapnya.
Ia juga menyampaikan pengalamannya mendampingi Gus Dur pada periode awal berdirinya PKB tahun 1998–1999.
“Saya masih wakil ketua Garda Bangsa Kalsel saat itu. Gus Dur selalu mengingatkan bahwa politik adalah alat memperjuangkan keadilan, bukan tempat memperkaya diri. Amanah itu yang terus saya bawa sampai hari ini,” katanya.
Terkait penganugerahan gelar Pahlawan Nasional untuk Gus Dur dan Syaikhona Kholil, H. Hasanuddin menilai hal itu merupakan pengakuan atas kontribusi besar keduanya bagi bangsa dan dunia keilmuan Islam.
“Gus Dur adalah guru bangsa, sementara Syaikhona Kholil adalah guru dari para kiai besar. Dua tokoh yang membawa cahaya bagi Indonesia. Kami di PKB merasa bangga dan terpanggil untuk melanjutkan nilai perjuangan mereka,” tegasnya.
Acara Tasyakuran dan Dialog Interaktif tersebut berlangsung hangat dan penuh refleksi. Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen kebangsaan dan nilai kemanusiaan yang diwariskan dua tokoh besar tersebut.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama, sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan atas ditetapkannya Gus Dur dan Syaikhona Kholil sebagai Pahlawan Nasional — sebuah pengakuan yang diyakini sangat layak dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus.”
(Nata/Team)













