MARTAPURA – PeloporNews Kalimantan
Sejarah panjang Kesultanan Banjar menyimpan banyak kisah penuh makna, salah satunya adalah tentang sosok Raden Zakaria bin Sulthon Rahmatullah, atau dikenal pula sebagai Pangeran Zakaria tokoh religius dan paman dari Sulthon Musta’inbillah, yang mendirikan Masjid pertama di Martapura pada tahun 1596 Masehi.
Raden Zakaria merupakan putra dari Sulthon Rahmatullah, penguasa Banjar ke-2 (memerintah tahun 1545–1570). Ia memiliki tiga saudara kandung, yaitu Sulthon Hidayatullah I yang dimakamkan di Kuin Banjarmasin, Pangeran Demang (Dipati) yang dimakamkan di Sungai Tabukan, serta dirinya sendiri, Raden Zakaria, yang dimakamkan di Pasayangan, Martapura.
Dari garis keturunan ibunya, Raden Zakaria juga memiliki darah bangsawan Jawa. Ibunya, Ratu Syarifah Maidah, merupakan adik dari Sulthon Mataram di Pulau Jawa. Hubungan inilah yang kelak mempererat tali spiritual dan budaya antara Banjar dan Mataram di masa lampau.
Pada masa pemerintahan kakaknya, Sulthon Hidayatullah I (Sulthon Banjar ke-3), istana kesultanan yang terletak di Kuin, Banjarmasin, pernah diserang oleh pasukan penjajah dari muara Sungai Barito. Meriam-meriam mereka menghancurkan sebagian besar istana dan masjid kesultanan.
Ketika itu, Sulthon Hidayatullah masih berada di Tanah Jawa, sehingga pemerintahan dipegang sementara oleh Mangkubumi. Setelah serangan besar tersebut, tampuk pemerintahan kemudian dilanjutkan oleh Sulthon Musta’inbillah bin Sulthon Hidayatullah I, yang menjadi Sulthon Banjar ke-4.
Dibantu oleh para tokoh Banjar seperti Ki Martasura, Ki Ginduaji, Ki Dauaji, dan Ki Ludara, Sulthon Musta’inbillah berhasil memukul mundur pasukan penjajah dan mengamankan wilayah Banjar. Namun, karena posisi istana di Kuin terlalu dekat dengan muara laut dan rawan serangan, Sulthon Musta’inbillah memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan ke daerah Kayu Tangi ,kawasan yang kini dikenal sebagai Martapura.
Berdirinya Masjid Pertama Martapura (1596 M)

Dengan restu para datu dan ulama, Sulthon Musta’inbillah mendirikan istana baru di Kayu Tangi, di daerah Sungai Tabukan. Di tempat itulah, Raden Zakaria, yang saat itu telah dikenal sebagai Pangeran Suhud, turut berperan besar dalam pembangunan Masjid Agung Kesultanan Banjar , masjid pertama di Martapura pada tahun 1596 Masehi.
Masjid tersebut menjadi pusat dakwah, pendidikan, dan pemersatu masyarakat Banjar. Dari mimbar itulah, Raden Zakaria mengajarkan ilmu agama yang ia pelajari selama menimba ilmu di Mataram, Pulau Jawa. Ia dikenal bijak, rendah hati, dan dekat dengan rakyat.
Kehadirannya menjadikan masyarakat Banjar hidup rukun, saling menghormati, dan saling menyayangi. Dari semangat persaudaraan dan kasih sayang itu pula lahirlah nama sebuah kampung yang hingga kini dikenal, yaitu Pasayangan, dari kata “sayang-menyayangi”.
Setelah kembali dari Mataram, masyarakat Banjar memberikan gelar kehormatan kepada Raden Zakaria sebagai Syeikh Muhammad Suhud, seorang ulama besar yang mencurahkan hidupnya untuk mengajarkan ilmu dan akhlak kepada umat.
Beliau wafat dan dimakamkan di samping Masjid Kesultanan Banjar di Pasayangan, Martapura , masjid bersejarah yang telah hancur bersama banyak kampung di Martapura akibat pembumihangusan oleh penjajah Belanda setelah wafatnya Sulthon Adam Al-Wasiqubillah, sekitar tahun 1859–1862.
Tragedi itu terjadi pada masa Perang Banjar, di bawah kepemimpinan Pangeran Hidayatullah dan Mangkubumi Pangeran Antasari. Dari deretan kampung yang musnah seperti Tunggul Irang, Murung, Keraton, Pasayangan, Antasan, Kampung Melayu, Pakauman, Taruk Selong, hingga Sungai Kitano ,hanya Dalam Pagar yang terselamatkan berkat perlindungan spiritual Datu Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Kini, masjid pertama Martapura yang dibangun pada masa Raden Zakaria hanya tersisa kenangan dan bekas makam yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang Islam di Tanah Banjar. Masjid itu menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi sepuluh sultan yang pernah memerintah Martapura, sebelum akhirnya digantikan oleh Masjid Agung Al-Karomah.
Warisan sejarah ini bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi juga pesan moral bagi generasi penerus untuk menjaga nilai keimanan, kebersamaan, dan kecintaan terhadap tanah Banjar.
“Kita patut meneladani perjuangan dan ketulusan Raden Zakaria atau Syeikh Muhammad Suhud. Beliau bukan hanya ulama, tetapi juga penyatu umat. Masjid yang beliau dirikan menjadi simbol persaudaraan dan cahaya Islam di Martapura,”
“Kalau kita lupa dengan para pendiri, maka kita kehilangan akar sejarah. Semoga kita selalu mendoakan para ulama, datu, dan sultan terdahulu agar Allah mengampuni dosa-dosa mereka, dan kita semua mendapatkan berkah dari perjuangan mereka,
Semoga kisah perjuangan dan ketulusan Raden Zakaria bin Sulthon Rahmatullah menjadi pelajaran berharga bagi generasi kini. Beliau adalah pionir spiritual dan pembangun peradaban Banjar, yang dengan ilmu dan cintanya membangun pondasi keislaman di Martapura tanah yang kini dikenal sebagai Serambi Mekkah Kalimantan Selatan.(Team)













