Home / Pendidikan

Jumat, 24 Oktober 2025 - 17:18 WIB

Jejak Agung Raden Zakaria: Pendiri Masjid Pertama di Martapura Tahun 1596, Sang Ulama yang Menyatukan Banjar dengan Ilmu dan Cinta Damai

MARTAPURA – PeloporNews Kalimantan
Sejarah panjang Kesultanan Banjar menyimpan banyak kisah penuh makna, salah satunya adalah tentang sosok Raden Zakaria bin Sulthon Rahmatullah, atau dikenal pula sebagai Pangeran Zakaria tokoh religius dan paman dari Sulthon Musta’inbillah, yang mendirikan Masjid pertama di Martapura pada tahun 1596 Masehi.

Raden Zakaria merupakan putra dari Sulthon Rahmatullah, penguasa Banjar ke-2 (memerintah tahun 1545–1570). Ia memiliki tiga saudara kandung, yaitu Sulthon Hidayatullah I yang dimakamkan di Kuin Banjarmasin, Pangeran Demang (Dipati) yang dimakamkan di Sungai Tabukan, serta dirinya sendiri, Raden Zakaria, yang dimakamkan di Pasayangan, Martapura.

Dari garis keturunan ibunya, Raden Zakaria juga memiliki darah bangsawan Jawa. Ibunya, Ratu Syarifah Maidah, merupakan adik dari Sulthon Mataram di Pulau Jawa. Hubungan inilah yang kelak mempererat tali spiritual dan budaya antara Banjar dan Mataram di masa lampau.

Pada masa pemerintahan kakaknya, Sulthon Hidayatullah I (Sulthon Banjar ke-3), istana kesultanan yang terletak di Kuin, Banjarmasin, pernah diserang oleh pasukan penjajah dari muara Sungai Barito. Meriam-meriam mereka menghancurkan sebagian besar istana dan masjid kesultanan.

Ketika itu, Sulthon Hidayatullah masih berada di Tanah Jawa, sehingga pemerintahan dipegang sementara oleh Mangkubumi. Setelah serangan besar tersebut, tampuk pemerintahan kemudian dilanjutkan oleh Sulthon Musta’inbillah bin Sulthon Hidayatullah I, yang menjadi Sulthon Banjar ke-4.

Dibantu oleh para tokoh Banjar seperti Ki Martasura, Ki Ginduaji, Ki Dauaji, dan Ki Ludara, Sulthon Musta’inbillah berhasil memukul mundur pasukan penjajah dan mengamankan wilayah Banjar. Namun, karena posisi istana di Kuin terlalu dekat dengan muara laut dan rawan serangan, Sulthon Musta’inbillah memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan ke daerah Kayu Tangi ,kawasan yang kini dikenal sebagai Martapura.

Baca Juga :  Kesempatan Terbaik ! Pesantren Kilat Al-Madad Buka Pendaftaran, Siapkan Generasi Sholeh dan Tangguh

Berdirinya Masjid Pertama Martapura (1596 M)

Dengan restu para datu dan ulama, Sulthon Musta’inbillah mendirikan istana baru di Kayu Tangi, di daerah Sungai Tabukan. Di tempat itulah, Raden Zakaria, yang saat itu telah dikenal sebagai Pangeran Suhud, turut berperan besar dalam pembangunan Masjid Agung Kesultanan Banjar , masjid pertama di Martapura pada tahun 1596 Masehi.

Masjid tersebut menjadi pusat dakwah, pendidikan, dan pemersatu masyarakat Banjar. Dari mimbar itulah, Raden Zakaria mengajarkan ilmu agama yang ia pelajari selama menimba ilmu di Mataram, Pulau Jawa. Ia dikenal bijak, rendah hati, dan dekat dengan rakyat.

Kehadirannya menjadikan masyarakat Banjar hidup rukun, saling menghormati, dan saling menyayangi. Dari semangat persaudaraan dan kasih sayang itu pula lahirlah nama sebuah kampung yang hingga kini dikenal, yaitu Pasayangan, dari kata “sayang-menyayangi”.

Setelah kembali dari Mataram, masyarakat Banjar memberikan gelar kehormatan kepada Raden Zakaria sebagai Syeikh Muhammad Suhud, seorang ulama besar yang mencurahkan hidupnya untuk mengajarkan ilmu dan akhlak kepada umat.

Beliau wafat dan dimakamkan di samping Masjid Kesultanan Banjar di Pasayangan, Martapura , masjid bersejarah yang telah hancur bersama banyak kampung di Martapura akibat pembumihangusan oleh penjajah Belanda setelah wafatnya Sulthon Adam Al-Wasiqubillah, sekitar tahun 1859–1862.

Tragedi itu terjadi pada masa Perang Banjar, di bawah kepemimpinan Pangeran Hidayatullah dan Mangkubumi Pangeran Antasari. Dari deretan kampung yang musnah seperti Tunggul Irang, Murung, Keraton, Pasayangan, Antasan, Kampung Melayu, Pakauman, Taruk Selong, hingga Sungai Kitano ,hanya Dalam Pagar yang terselamatkan berkat perlindungan spiritual Datu Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Baca Juga :  SMKS DDI Batulicin Sosialisasikan PPDB 2024: Permintaan yang Meningkat, OTKP Tetap Favorit

Kini, masjid pertama Martapura yang dibangun pada masa Raden Zakaria hanya tersisa kenangan dan bekas makam yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang Islam di Tanah Banjar. Masjid itu menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi sepuluh sultan yang pernah memerintah Martapura, sebelum akhirnya digantikan oleh Masjid Agung Al-Karomah.

Warisan sejarah ini bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi juga pesan moral bagi generasi penerus untuk menjaga nilai keimanan, kebersamaan, dan kecintaan terhadap tanah Banjar.

“Kita patut meneladani perjuangan dan ketulusan Raden Zakaria atau Syeikh Muhammad Suhud. Beliau bukan hanya ulama, tetapi juga penyatu umat. Masjid yang beliau dirikan menjadi simbol persaudaraan dan cahaya Islam di Martapura,”
“Kalau kita lupa dengan para pendiri, maka kita kehilangan akar sejarah. Semoga kita selalu mendoakan para ulama, datu, dan sultan terdahulu agar Allah mengampuni dosa-dosa mereka, dan kita semua mendapatkan berkah dari perjuangan mereka,

Semoga kisah perjuangan dan ketulusan Raden Zakaria bin Sulthon Rahmatullah menjadi pelajaran berharga bagi generasi kini. Beliau adalah pionir spiritual dan pembangun peradaban Banjar, yang dengan ilmu dan cintanya membangun pondasi keislaman di Martapura tanah yang kini dikenal sebagai Serambi Mekkah Kalimantan Selatan.(Team)

Share :

Baca Juga

Pendidikan

Pangeran Syarif Nata Kusuma: Ulama Hadramaut yang Menjadi Menantu Sultan Adam dan Tokoh Penting Kesultanan Banjar

Pendidikan

Pemkab Kotabaru Serahkan Bantuan Perlengkapan Sekolah Untuk Tingkat Paud, SD dan SMP

Pendidikan

Anggota DPRD Tanah Bumbu Abdul Rahim Dorong Kampanye Anti-Bullying di Sekolah: Wujudkan Lingkungan Pendidikan yang Aman dan Inklusif

Pendidikan

Pangeran Suria Winata, Sang Bangsawan Banjar yang Jadi Regent Martapura di Masa Transisi Kesultanan ke Kolonial

Pendidikan

Mengenang Sulthan Muhammad Aminullah, Penguasa Bijak Banjar yang Wafat di Pulau Laut”

Pendidikan

Jejak Heroik Demang Lehman, Panglima Perang Banjar yang Tak Takut Mati Demi Kemerdekaan: Melawan Kolonialisme Belanda

Pendidikan

Menggema di Tanah Bumbu! Peringatan Hari Santri 2025 Teguhkan Peran Pesantren Jaga Kemerdekaan dan Peradaban

Pendidikan

Penuh Tawa dan Cerita: Anak-Anak TK di Kotabaru Antusias Ikuti Kelas Literasi di Perpustakaan Daerah